Jalan-Jalan Ke Tenggarong (PART 1) : Menikmati Pemandangan Tepi Sungai Mahakam

Baru-baru ini saya, suami dan Dek Adam (23bulan) melakukan liburan singkat ke luar kota Balikpapan. Jika dua bulan lalu kami mencoba pergi ke kota sebelah alias Samarinda, kali ini kami bergerak sedikit lebih jauh, yaitu ke TENGGARONG. Tenggarong adalah sebuah daerah di Kutai Kartanegara yang berada di sebelah utara kota Balikpapan dan Samarinda. Menurut aplikasi Google Maps, jarak Balikpapan (dari rumah saya di WIKA) ke Tenggarong sekitar 118km.

Amunisi perjalanan sudah kami siapkan sebelum subuh, antara lain koper isi baju ganti, cemilan, dan bekal sarapan dek Adam. Saya dan suami pun sudah sarapan sebelum jam 06. Tetangga depan rumah berpesan membawa bekal sendiri buat Dek Adam karena di Tenggarong susah cari makanan yang pas untuk Balita.

Continue reading

Mengkhitankan Anak Di Bawah Umur Satu Tahun

Helo helo helo!

Tidak sengaja kemarin saya diingatkan salah satu akun sosmed saya –yang lambangnya huruf P itu, bahwa setahun yang lalu saya dan suami memutuskan untuk mengkhitankan Dek Adam. Saat itu Dek Adam berusia sekitar 7bulan. Sebenarnya khitan ini dilakukan bukan tanpa alasan, melainkan indikasi medis.

Menginjak usia 4bulan, saya menyadari ada sesuatu yang janggal : Dek Adam selalu menangis ketika hendak buang air kecil (BAK), HENDAK ya, bukan SETELAH. Kalau setelah BAK lalu bayi nangis mungkin wajar karena basah, namun kalau sebelumnya? 

  Continue reading

Kunjungan Pertama Dek Adam ke Dokter Gigi Anak

Hay hay hay semua!

Di umur ke Sembilan belas bulan ini dek Adam akhirnyaaaa untuk pertama kalinya ke DOKTER GIGI ANAK! Jeng jeng jeeeeng~~

Tawa Dek Adam sebelum ke Dokter Gigi Anak

Mungkin sebagian bertanya-tanya, kenapa sih perlu ke dokter gigi anak? Dek Adam sakit gigi? Giginya bolong kah? Gigis? Keropos? NO NO NO, bukan. Inisiatif ke dokter gigi anak ini dimulai dari pembicaraan grup Whatsapp BC June 2015 (kumpulan bukibuk yang anaknya lahir Juni 2015) dimana ada salah satu mama yang mengutip quote :


Ajaklah anak ke dokter gigi, meski belum memiliki masalah serius dengan gigi. Apabila diajak ketika sakit gigi, takutnya akan membuat anak trauma


Continue reading

Long Distance Marriage

ALERT! CURHAT COLONGAN DETECTED!

Sudah hari ke sebelas sejak Suami berangkat untuk kembali ke lapangan, tidak jauh, hanya di Papua. Bahkan saat saya hamil muda hingga anak berumur 6bulan, ia dinas di Mesir, sehingga jarak yang sekarang tidak terlalu berarti apa-apa buat saya. Kadang sinyal bersahabat, kadang juga cari masalah, yah namanya juga LDM, kalau bukan fakir sinyal ya fakir teman makan.

Kami menjalani ini belum lama dibanding pasangan lain, sekitar…….. dari awal menikah alias 2,5tahun. Bagi sebagian orang, kami dianggap aneh. Mengapa menikah jika harus terpisah. Dalam hati kami sedikit menolak kalimat itu, meski ya benar adanya, kami berpisah secara fisik…. Setidaknya, bukan hati.

“Cha, gimana rasanya hamil tapi pas suami tidak disini?”


“Cha, gimana dulu lahiran, suami ada gak?”


“Cha, gimana begadang, suami ikut kebangun gak?”


“Cha, gimana Dek Adam? Inget Papanya gak kalau ditinggal pergi?”

 

Pertanyaan-pertanyaan tersebut selalu dilontarkan orang sekitar, apalagi yang terakhir. Otak saya pun tergerak untuk flash back…………..

Saya tidak menyadari kala itu hamil muda, saya naik motor sendirian war-wer kemana-mana, mengurus dokumen pembelian rumah karena Suami bekerja di Jakarta. Saat saya tahu hamil, ke obsgyn pun harus menunggu minggu depannya karena suami tidak di sisi.

Cuti lahiran saya dapatkan ketika kehamilan menginjak 33minggu, lagi-lagi saya tidak ditemani suami untuk sekedar pulang ke Surabaya. Kala itu, Papa saya terbang dari Surabaya 2 hari sebelum saya cuti lahiran hanya untuk menemani saya selama di pesawat menuju Surabaya.

Pun… saat lahiran. Prediksi dokter saya akan melahirkan di minggu 40, jika benar, saat itu suami saya akan dapat menemani saya. Ternyata Alloh merencanakan yang lain, baru saja Calon Papa ini berangkat ke Mesir 3hari sebelum minggu ke-37… ternyata saya harus melahirkan jauh lebih cepat. Ya, ketika dek Adam lahir ke dunia, Papanya masih ada di lapangan Mesir…. Mereka hanya bisa saling menatap via video call, itu lo kayak iklan LI*E, hahaha. Papa Adam baru datang 3hari pasca saya melahirkan

Ternyata sudah 18bulan lebih sejak melahirkan, rasanya masih sama saja, kami jauh-jauhan. Terkadang memang benar terasa sepi………. Tapi apakah se-ngenes itu?

Mungkin tidak semua ngidamku terpenuhi, tapi saat suami off duty, ia lah yang membalurkan balsem di kaki dan memijatnya sepenuh hati. Maklum, berat badan saya naik hingga 25kg saat menjelang melahirkan, berat bok!

Dek Adam baru berumur lima hari saat kontrol ke dsa untuk pertama kalinya, berat badannya turun 3ons, kata dokter penurunannya terlalu banyak, saat itu saya shock karena baru tshu bahwa tidak bisa menyusui dengan baik. Sepulang dari RS, saya menangis sejadi-jadinya di mobil. Kalau kata orang baby blues datang saat awal-awal melahirkan, saya mengalaminya sejak hari tersebut. Saya merasa menjadi ibu yang gagal, jangankan mau merawat anak, menyusui, satu-satu sumber kehidupannya saja saya tidak bisa.

Suami saya menemani saya di saat-saat terpuruk itu. Dek Adam menangis kehausan, saya bingung menanganinya. Saya bahkan sempet berteriak kencang bahwa saya tidak mau megang dek Adam sama sekali. Suami saya lah yang berusaha mengayun-ayun dek Adam hingga ia kembali tidur. Lalu ia memeluk saya kencang sekali, menguatkan bahwa saya bisa melewati ini. Ia pun mengumpulkan brosur dan majalah dari RS mengenai menyusui, ia MELATIH SAYA, MENGARAHKAN SAYA, posisi menyusui yang benar… 

Selama 1bulan penuh, suami rutin tidur jam 9-12siang, karena ia begadang menidurkan dek Adam. Tugas saya hanya makan dan menyusui, selebihnya suami yang melakukan. Dari mandikan bayi, cuci popok, cuci baju bayi, bahkan baju saya.

Sejak 4bulan, dek Adam jarang terbangun malam. Ritme tidurnya pun pas bagi kami berdua, jam 19.30-05.30WITA. Kami tidak lagi banyak begadang alhamdulillah.

Ia selalu mengingatkan jadwal makan dan pumping agar ASI saya tetap deras. Memilah milih makanan diusahakan tidak mengandung telur/seafood agar dia yang makan  karena Dek Adam alergi.

Setiap ia mau pulang, ada yang deg-deg-an, berasa seperti mau ketemu pacar baru. Halah~

Jika suami off duty, ia akan menjadi teman main dek Adam seharian.. Bahkan akhir-akhir ini, hampir setiap siang saat saya bekerja, mereka jalan-jalan berdua. Kurang romantis apa coba! Ngemall berdua, jalan berdua, makan di resto berdua sampai-sampai ditanyain Mbak resto : “Mamanya mana ya Pak?” =))))))))))))))))))))))

Jalan Jalan Berdua Saja.

Belum lagi setiap malam entah lagi jauh atau pun dekat, ia harus mendengarkan cerita, curhatan, bahkan omelan istrinya yang super bawel ini……… ah bahagia ternyata dekat, cuma rasa syukur saja yang dirasa terlalu susah.

“Apapun yang terjadi, kita harus berusaha ikhlas… sudah diusahakan, diupayakan, didoakan, diharap-harapkan, kalau belum kejadian, ya ikhlas…” – gitu kata Suami. 

Ikhlas dari liburan Desember kemarin hampir cancel, jadwal pulang bulan ini (kayaknya) mundur, berat badan belum turun yah ikhlas.. kan sudah berusaha :”

Karena itu… di setiap jadwal berangkat maupun pulang, entah ojek, taksi, pesawat atau pun boat membawanya berlabuh, hanya hati dan mulut ini yang dapat berdoa, semoga senantiasa dilindungi oleh-Nya, dan berkah untuk keluarga kecil kami. Aamiin.

Salam,

Peserta LDM kloter Balikpapan Papua.