Mengkhitankan Anak Di Bawah Umur Satu Tahun

Helo helo helo!

Tidak sengaja kemarin saya diingatkan salah satu akun sosmed saya –yang lambangnya huruf P itu, bahwa setahun yang lalu saya dan suami memutuskan untuk mengkhitankan Dek Adam. Saat itu Dek Adam berusia sekitar 7bulan. Sebenarnya khitan ini dilakukan bukan tanpa alasan, melainkan indikasi medis.

Menginjak usia 4bulan, saya menyadari ada sesuatu yang janggal : Dek Adam selalu menangis ketika hendak buang air kecil (BAK), HENDAK ya, bukan SETELAH. Kalau setelah BAK lalu bayi nangis mungkin wajar karena basah, namun kalau sebelumnya? 

  Continue reading

Kunjungan Pertama Dek Adam ke Dokter Gigi Anak

Hay hay hay semua!

Di umur ke Sembilan belas bulan ini dek Adam akhirnyaaaa untuk pertama kalinya ke DOKTER GIGI ANAK! Jeng jeng jeeeeng~~

Tawa Dek Adam sebelum ke Dokter Gigi Anak

Mungkin sebagian bertanya-tanya, kenapa sih perlu ke dokter gigi anak? Dek Adam sakit gigi? Giginya bolong kah? Gigis? Keropos? NO NO NO, bukan. Inisiatif ke dokter gigi anak ini dimulai dari pembicaraan grup Whatsapp BC June 2015 (kumpulan bukibuk yang anaknya lahir Juni 2015) dimana ada salah satu mama yang mengutip quote :


Ajaklah anak ke dokter gigi, meski belum memiliki masalah serius dengan gigi. Apabila diajak ketika sakit gigi, takutnya akan membuat anak trauma


Continue reading

REVIEW : CARSEAT JOIE TILT

Carseat adalah salah satu wishlist saya dan suami ketika berencana membeli mobil. Sejak membaca forum di web komunitas ibu-ibu, saya merasa penting untuk memiliki carseat, baik dari segi keamanan (INI YANG UTAMA) maupun kenyamanan. Sejujurnya, memilih carseat juga tidak mudah, karena sifatnya memang cocok-cocokan

Saya menghabiskan cukup banyak waktu untuk membaca review yang bertebaran di internet, akhirnya saya sreg untuk membeli JOIE TILT CARSEAT

Dek Adam Nyaman Tidur dan Bercanda di Carseat

Sejujurnya pembelian carseat kala itu cukup terlambat, meski saya sudah punya wishlist sejak hamil, namun ternyata saya baru membelinya ketika dek Adam umur 6bulan. Keterlambatan memiliki carseat ini ternyata berdampak pada sulitnya mendisiplinkan dek Adam yang saat itu sudah keenakan duduk atau tiduran di pangkuan saya saat bepergian. Selama 6bulan pun, saya tidak pernah bepergian berdua dengan dek Adam menggunakan mobil pribadi. 

Continue reading

REVIEW : POMPA ASI MEDELA SWING DAN SPECTRA 9+

​Hello, readers!

Tidak terasa Dek Adam akan 19bulan pada tanggal 27 nanti, berarti sudah 19bulan juga saya menyusui dan memberikan ASI untuknya (duh 5bulan lagi nyapih dong ya?). Selama 19bulan juga saya memompa ASI untuk dek Adam, karena saya memulai mompa saat dia masih berumur 3hari.

Selama ini ada 2 jenis pompa ASI yang pernah saya pakai, keduanya electric breastpump, yaitu MEDELA SWING dan SPECTRA 9+. Di postingan kali ini saya akan review singkat tentang keduanya! 

MEDELA SWING

Single Pump; Harga di online shop per Juni 2015 : 1.75juta

Penampakan Medela Swing

Keunggulan :

  • Desain pompa bagus, warnanya menarik
  • Tidak banyak printilan karena hanya single pump.
  • Tersedia banyak ukuran diameter puting
  • Memiliki 2 sesi, pijat dan perah sehingga memungkinkan untuk stimulasi di awal memompa

Kelemahan :

  • Lumayan pricey untuk single pump
  • Membutuhkan waktu lebih lama karena harus gantian pompa kanan-kiri
  • Hanya memiliki 3 (atau 4?) macem tingkat pijat dan perah
  • Jarang dapat mengosongkan payudara. Ini faktor cocok-cocokan juga
  • Opened system, alias tidak ada penghalang antara selang dan mesin pompa. Pernah sesekali saat mompa hingga penuh, ASI di dalam botol terhisap oleh valve sehingga ada sebagian ASI masuk selang. Alhamdulillah tidak sampai mesin, namun cukup jadi PR juga untuk membersihkan selang
  • Tidak ada Medela service center di Balikpapan
  • Hanya dapat menggunakan sumber listrik (colok langsung), atau batere kecil. Hal ini tidak memungkinkan untuk memompa dimana saja, alias harus dekat colokan listrik.

SPECTRA 9+ 

Double pump; Harga di online shop per Juli 2015 1.52juta

Penampakan Spectra 9+

Keunggulan :

  • Murah untuk double pump, bahkan lebih murce dari medela single pump
  • Memiliki layar yang menampilkan tingkatan pijat/hisap dan waktu
  • Memiliki 5 tingkatan pijat dan 10 tingkatan hisap. Saya suka fitur ini karena bisa leluasa memilih~
  • Karena double pump, menghemat waktu memompa. Cukup 15-20menit saya menyudahi aktivitas memompa saya
  • Dapat dioperasikan tanpa colokan listrik alias memiliki batere yang built in. Hal ini memudahkan saya untuk memompa dimana saja, di mobil sekalipun. Apabila saya diantar/jemput suami, saya sering memompa selama perjalanan.
  • Batere cukup tahan lama. Saat weekend, charger saya pernah tertinggal di kantor, namun saya tetap dapat memompa sehari 2x hingga masuk kantor.
  • Lebih dapat mengosongkan payudara dari pada Medela Swing
  • Closed system karena memiliki Back Flow Preventer (BFP) sehingga ASI tidak akan masuk ke selang
  • Official instagram aktif dan tanggap jika kita bertanya. Saya simpulan after sales servicenya bagus
  • Memiliki konektor yang dapat menghubungkan corong dan botol yang diameternya berbeda dengan botol bawaan.

Kelemahan :

  • Warna dan desainnya tidak secantik Medela Swing (penting???)
  • Valve kurang awet alias gampang sobek. Apabila sobek, daya hisap tidak optimal. Saya harus selalu hati-hati membersihkan valve, bahkan akhirnya hanya dicelup ke air panas dan membersihkan bagian dalam dengan cotton bud jika perlu. Valve nya mudah dicari di online harganya 30-40ribu. Setiap 3-6bulan saya mengganti valve karena sudah sobek hehe. 
  • Selain valve, botolnya juga kurang awet karena tidak tahan perubahan suhu mendadak. Botol saya pernah bolong saat habis kusiram air panas.
  • Printilan lebih banyak karena double pump dengan BFP.
  • Tuas manual sama sekali tidak bisa dipakai.

Dengan penilaian seperti di atas, saya lebih sering menggunakan SPECTRA 9+ untuk memompa ASI. Saya membeli pompa ini karena saat dek Adam umur sebulan saya mulai menyadari bahwa saya membutuhkan double pump agar tidak banyak membuang waktu. 

Alhamdulillah cocok dengan SPECTRA 9+ baik performa maupun harga. Medela Swing hanya dipakai sebulan sekali dan akhirnya saya flea. Pompa ASI ini merupakan salah satu tools yang membantu saya untuk meningkatkan (atau minimal mempertahankan) produksi ASI. Semoga dapat menyempurnakan menyusui dek Adam hingga 2tahun. aamiin!

Jadi, apa pompa ASI favoritmu? 

Long Distance Marriage

ALERT! CURHAT COLONGAN DETECTED!

Sudah hari ke sebelas sejak Suami berangkat untuk kembali ke lapangan, tidak jauh, hanya di Papua. Bahkan saat saya hamil muda hingga anak berumur 6bulan, ia dinas di Mesir, sehingga jarak yang sekarang tidak terlalu berarti apa-apa buat saya. Kadang sinyal bersahabat, kadang juga cari masalah, yah namanya juga LDM, kalau bukan fakir sinyal ya fakir teman makan.

Kami menjalani ini belum lama dibanding pasangan lain, sekitar…….. dari awal menikah alias 2,5tahun. Bagi sebagian orang, kami dianggap aneh. Mengapa menikah jika harus terpisah. Dalam hati kami sedikit menolak kalimat itu, meski ya benar adanya, kami berpisah secara fisik…. Setidaknya, bukan hati.

“Cha, gimana rasanya hamil tapi pas suami tidak disini?”


“Cha, gimana dulu lahiran, suami ada gak?”


“Cha, gimana begadang, suami ikut kebangun gak?”


“Cha, gimana Dek Adam? Inget Papanya gak kalau ditinggal pergi?”

 

Pertanyaan-pertanyaan tersebut selalu dilontarkan orang sekitar, apalagi yang terakhir. Otak saya pun tergerak untuk flash back…………..

Saya tidak menyadari kala itu hamil muda, saya naik motor sendirian war-wer kemana-mana, mengurus dokumen pembelian rumah karena Suami bekerja di Jakarta. Saat saya tahu hamil, ke obsgyn pun harus menunggu minggu depannya karena suami tidak di sisi.

Cuti lahiran saya dapatkan ketika kehamilan menginjak 33minggu, lagi-lagi saya tidak ditemani suami untuk sekedar pulang ke Surabaya. Kala itu, Papa saya terbang dari Surabaya 2 hari sebelum saya cuti lahiran hanya untuk menemani saya selama di pesawat menuju Surabaya.

Pun… saat lahiran. Prediksi dokter saya akan melahirkan di minggu 40, jika benar, saat itu suami saya akan dapat menemani saya. Ternyata Alloh merencanakan yang lain, baru saja Calon Papa ini berangkat ke Mesir 3hari sebelum minggu ke-37… ternyata saya harus melahirkan jauh lebih cepat. Ya, ketika dek Adam lahir ke dunia, Papanya masih ada di lapangan Mesir…. Mereka hanya bisa saling menatap via video call, itu lo kayak iklan LI*E, hahaha. Papa Adam baru datang 3hari pasca saya melahirkan

Ternyata sudah 18bulan lebih sejak melahirkan, rasanya masih sama saja, kami jauh-jauhan. Terkadang memang benar terasa sepi………. Tapi apakah se-ngenes itu?

Mungkin tidak semua ngidamku terpenuhi, tapi saat suami off duty, ia lah yang membalurkan balsem di kaki dan memijatnya sepenuh hati. Maklum, berat badan saya naik hingga 25kg saat menjelang melahirkan, berat bok!

Dek Adam baru berumur lima hari saat kontrol ke dsa untuk pertama kalinya, berat badannya turun 3ons, kata dokter penurunannya terlalu banyak, saat itu saya shock karena baru tshu bahwa tidak bisa menyusui dengan baik. Sepulang dari RS, saya menangis sejadi-jadinya di mobil. Kalau kata orang baby blues datang saat awal-awal melahirkan, saya mengalaminya sejak hari tersebut. Saya merasa menjadi ibu yang gagal, jangankan mau merawat anak, menyusui, satu-satu sumber kehidupannya saja saya tidak bisa.

Suami saya menemani saya di saat-saat terpuruk itu. Dek Adam menangis kehausan, saya bingung menanganinya. Saya bahkan sempet berteriak kencang bahwa saya tidak mau megang dek Adam sama sekali. Suami saya lah yang berusaha mengayun-ayun dek Adam hingga ia kembali tidur. Lalu ia memeluk saya kencang sekali, menguatkan bahwa saya bisa melewati ini. Ia pun mengumpulkan brosur dan majalah dari RS mengenai menyusui, ia MELATIH SAYA, MENGARAHKAN SAYA, posisi menyusui yang benar… 

Selama 1bulan penuh, suami rutin tidur jam 9-12siang, karena ia begadang menidurkan dek Adam. Tugas saya hanya makan dan menyusui, selebihnya suami yang melakukan. Dari mandikan bayi, cuci popok, cuci baju bayi, bahkan baju saya.

Sejak 4bulan, dek Adam jarang terbangun malam. Ritme tidurnya pun pas bagi kami berdua, jam 19.30-05.30WITA. Kami tidak lagi banyak begadang alhamdulillah.

Ia selalu mengingatkan jadwal makan dan pumping agar ASI saya tetap deras. Memilah milih makanan diusahakan tidak mengandung telur/seafood agar dia yang makan  karena Dek Adam alergi.

Setiap ia mau pulang, ada yang deg-deg-an, berasa seperti mau ketemu pacar baru. Halah~

Jika suami off duty, ia akan menjadi teman main dek Adam seharian.. Bahkan akhir-akhir ini, hampir setiap siang saat saya bekerja, mereka jalan-jalan berdua. Kurang romantis apa coba! Ngemall berdua, jalan berdua, makan di resto berdua sampai-sampai ditanyain Mbak resto : “Mamanya mana ya Pak?” =))))))))))))))))))))))

Jalan Jalan Berdua Saja.

Belum lagi setiap malam entah lagi jauh atau pun dekat, ia harus mendengarkan cerita, curhatan, bahkan omelan istrinya yang super bawel ini……… ah bahagia ternyata dekat, cuma rasa syukur saja yang dirasa terlalu susah.

“Apapun yang terjadi, kita harus berusaha ikhlas… sudah diusahakan, diupayakan, didoakan, diharap-harapkan, kalau belum kejadian, ya ikhlas…” – gitu kata Suami. 

Ikhlas dari liburan Desember kemarin hampir cancel, jadwal pulang bulan ini (kayaknya) mundur, berat badan belum turun yah ikhlas.. kan sudah berusaha :”

Karena itu… di setiap jadwal berangkat maupun pulang, entah ojek, taksi, pesawat atau pun boat membawanya berlabuh, hanya hati dan mulut ini yang dapat berdoa, semoga senantiasa dilindungi oleh-Nya, dan berkah untuk keluarga kecil kami. Aamiin.

Salam,

Peserta LDM kloter Balikpapan Papua.

 

Review Hotel : Riverstone Batu

Halo readers ! (kayak ada yang baca aja)

Baru saja minggu lalu saya mengambil cuti 4hari dari kantor untuk mudik ke Jawa dan berlibur. Sekitar 3malam saya habiskan di Surabaya (rumah Orang tua), 2malam di Batu untuk liburan bertiga, dan 3malam di Solo (rumah Mertua). Saya dan suami memutuskan pergi ke Batu untuk liburan karena kami ingin ada cerita sendiri saat Mudik. Berhubung tidak ada keluarga di sekitaran Batu atau pun Malang, mau tidak mau, kami harus menyewa hotel untuk bermalam.

Jauh sebelum hari-H, saya sudah browsing dan mencari informasi mengenai hotel yang paling asyique. Sebenarnya ada 2opsi untuk menginap : hotel di BATU, atau MALANG yaaaaaaaaaaaaa? Akhirnya kami end up dengan list plus minus seperti ini :

AREA : BATU

(+) Dekat dengan wisata yang dituju

(+) Bisa jadi tempat tidur-tiduran apabila mau pindah destinasi 

(+) Cukup sewa motor ke wisata

(-) Tidak banyak pilihan makanan (kuliner enak) 

(-) Tidak banyak pilihan hotel (murah) 

 

AREA : MALANG

(+) Di city center, bisa kemana mana

(+) Banyak pilihan makan enak, alias bisa wisata kuliner

(-) Jauh ke destinasi wisata, sekali jalan (taksi) malang-batu memakan waktu 30menit dan biaya 70ribu

(-) Tidak punya tempat santai apabila ingin ganti destinasi atau pun terjebak hujan deras

 

Belum lagiiiii menurut teman saya, Batu cukup sering hujan jika menginjak jam 12siang. Karena kami membawa balita 18bulan, kami terpikir untuk tidak banyak menghabiskan waktu di jalan, apalagi ditambah resiko hujan-hujanan. Dengan pertimbangan di atas, kami pun memutuskan untuk menginap di KOTA BATU.

Seperti poin (5), ternyata hotel di BATU cukup mahal untuk fasilitas biasa. Saya menggunakan aplikasi agoda dan traveloka untuk mencari hotel yang paling nyaman di hati. Dan akhirnya saya memutuskan untuk menginap di RIVERSTONE COTTAGE DAN HOTEL! Baru pertama kali nge-review hotel, nah… karena poinnya cukup banyaaak, mending saya nilai per aspek saja yah

LOKASI HOTEL : EXCELLENT! ❤❤❤❤❤

Hotelnya dekat sekali dengan Wisata yang ingin kami tuju (area Jawa Timur Park 2, Eco Green Park dan MuseumAngkut). 

Peta Hotel dari Aplikasi Traveloka

Selama di Batu saya menyewa motor. Tidak sampai 5menit ke Eco Green Park dan 10menit ke Museum Angkut! Deket banget kaan? Hotel ini termasuk 5hotel terdekat di sekitar area wisata.

Hotel pun menyediakan shuttle yang bentuknya seperti kereta kelinci untuk mendatangi wisata tersebut. Pengunjung bisa minta diantar (dan dijemput-request by phone). Fasilitas ini tersedia hingga pukul 16.00

PENAMPAKAN HOTEL : GOOD! ❤❤❤❤

Riverstone ini terdiri dari dua macam penginapan : kamar hotel dan cottage. Kalau memilih hotel, pengunjung akan dibawa ke bagian belakang hotel yang terdiri dari 2lantai. Satu lantai terdiri dari 8kamar (nampaknya). Kalau cottage, pengunjung memilih salah satu rumah yang ada disana. Saya sendiri memilih kamar hotel dengan double bed agar lebih menghemat 70ribu per malam… 

Penampakan Cottage

Penampakan Gedung Hotel 2 Lantai

 

Jalanannya Luas.. dek Adam Bisa Lari Lari

FASILITAS KAMAR : AVERAGE ❤❤❤

Saya mendapatkan kamar di lantai 2, tepatnya nomor 208. Kamar ini terletak di ujung lantai 2 dengan view menghadap ke jalan kecil samping hotel. Kamarnya cukup besar untuk ukuran double bed, masih banyak ruang sela di kanan kiri kasur. Mungkin kalau bisa kasih saran, sebaiknya ditambahkan sofa sehingga tidak tampak “kosong”, dan lebih nyaman untuk tempat istirahat sejenak. Lantainya bersih, namun tidak berkarpet. 

Kamar ini dilengkapi dengan cermin, meja, lemari, TV, water heater, colokan, telepon, dan hanger baju yang mencukupi. Perlengkapan mandi seperti sabun, shampoo, handuk, sikat dan pasta gigi pun lengkap. 

Yang saya kurang suka adalah pemilihan cat kamar, yakni krem. Warnanya kurang hangat untuk kota Batu yang cukup dingin. Andai saja kamarnya agak cokelat, ditambah wallpaper di satu sisi, mungkin saya akan memberikan nilai lebih karena terkesan lebih “mewah”. Selain itu bagian tembok yang rembes air terlihat menclok-menclok bekas air, jadi kurang enak dilihat. Subjektif banget yah?

Selain itu…. Kasurnya kelihatannya udah agak kurang bagus. Saat itu saya tidur bertiga dengan suami dan balita, rasanya kasur yang menempel bagian punggung sudah agak turun.

 

Kamar Double Bed

Meja Kamar

Kamar Mandi

MAKANAN : FAIR ❤❤

INI nih yang membuat saya galau memberikan penilaian. Selepas pulang dari Eco Green Park, kami check in dan memesan makanan via resto hotel. Kami memilih menu yang ada booklet kamar, harga yang ditawarkan tidak terlalu mahal-atau pun murah, sekitar 20-35 per makanan beratnya. Kami pesan Nasi Goreng Riverstone dan Mie Jawa untuk diantar ke kamar. Dari proses pesan hingga diantar sekitar 30-40menit.

Jeng Jeng…………. Wah porsinya banyaaaaaaaak sekali, piring bundar yang dipakai pun hampir penuh. Masakannya masih hangat. Karena ditutup wrap plastic, masakannya juga bersih selama pengantaran. Rasanyaaa juga enaaak, jujur kami tidak expect rasanya seperti nasi goreng di hotel bintang tiga… ya naik satu bintang lah 😛

Kami pun langsung menyambuttttt dua menu itu, dan karena saking banyaknya, separuh porsi mie masuk ke kotak bekal untuk cemilan anak saat jalan-jalan.

Besoknya kami sarapan di restoran hotel. Restorannya terletak di jalan tengah antara lobi, cottage, dan hotel. Tidak terlalu besar atau mewah, ya standard hotel bintang 2. Model sarapannya prasmanan. Begini penampakannya

Restoran untuk Sarapan

Sebenarnya yah, mengaca dari pesan makanan kemarin,  saya berekspektasi bahwa sarapan yang dihidangkan akan lumayan enak……………………………. Namun ternyata tidak juga. 

Menu hari pertama sarapan adalah : nasi putih, nasi goreng, sup tiga dara (macaroni, sosis, bakso) tumis kembang kol, telur dadar dengan bawang dan potongan cabe, ayam fillet. Ada juga roti tawar dilengkapi dengan aneka selai, serta irisan buah.

Nasi putihnya kurang punel, nasi gorengnya terlalu pero dan hambar, lauk nya “hanya” ayam fillet yang digoreng pakai tepung. Telor dadar kurang enak. Tumis sayur juga standard banget. Yah… ya namanya bintang 2, jadi saya tidak terlalu bernafsu untuk makan. Menyuapi anak dengan makanan itu aja cukup membuat saya kenyang. Akhirnya saya cuma makan roti dan sup.

Menu hari keuda sarapan adalah : nasi putih, nasi goreng, soto daging, tahu tempe crispy, tahu isi bihun. Dan seperti kemarin, juga dilengkapi roti tawar dilengkapi dengan aneka selai, serta irisan buah

Nah menú hari kedua ini saya demen. Soto dagingnya enak dan segar, potongan dagingnya besar-besar dan banyaak. Nasi goreng sih tetep ya, tapi setidaknya ada sambel terasi, jadi jika dicampurkan keduanya akan ada rasanya. Saya lumayan menikmati sarapan hari kedua.

SERVICE : GOOD ❤❤❤❤

Well.. disini pegawainya ramah, mau juga bercanda dengan anak saya selama kami menunggu kamar dibersihkan saat check in.  Check in mudah, namun memang saat saya check in benar-benar baru bisa jam 12.30.. Hari itu saya datang jam 09.30, mereka tidak bisa memberikan early check in karena kamar masih baru ditinggalkan pengunjung sebelumnya. Mereka berinisiatif untuk memberikan tempat titip barang, jika kami ingin jalan-jalan dulu.

Saat menginjak hari kedua pun, kamar kami tinggal dalam keadaan amat-sangat-duper-berantakan, maklum Dek Adam lagi suka meng-awut-awut barang. Saya pikir kalau kami tidak request, tidak akan dibersihkan.. eh namun nyatanya saat kami kembali ke kamar… Kamarnya sudah kembali rapih, namun tetap barang-barang yang sifatnya privacy tidak berubah posisinya. Handuk pun diganti. Really appreciate it 😊

*****

To sum up, we enjoyed our experience staying in Riverstone Cottage and Hotel Batu. Meski sempat kecewa dengan sarapan dan penampakan kamar yang kuraaang cantiiiik dikiiiit, tapi bisa tertutup dengan hal  positif lainnya. Saya dan suami pun sepakat, apabila nanti ke Batu lagi, kami berencana menginap disini lagi 🌝

 

RiverStone Hotel & Cottage

Jalan KH. Agus Salim No.97, Temas, Kec. Batu, Kota Batu, Jawa Timur 65316, Indonesia

Telepon: +62 341 524414

Membuat Homemade Nugget (ternyata) Mudah!

Akhir2 ini sering kesiangan buat bikin sarapan dek Adam… Kepikiran untuk stock sesuatu yang “instan”… eh ga sengaja baca postingan Mama Rania di Instagram @nandalast tentang nugget. Akhirnya saya eksekusi juga.
Karena coba coba dulu, saya pakai separuh lebih resep. Berencana dimakan untuk orang dewasa juga. Anggep aja ya buat stok seminggu deh. 

Ternyata tidak sesulit yang dibayangkan lo!

NUGGET AYAM (Resep by @nandalast )

Bahan :

  • 250gr daging sapi giling
  • 250gr daging ayam giling
  • 3 siung bawang putih, cincang kasar
  • 1/2 bawang bombay, cincang kasar
  • 1 sdt garam 
  • 1 sdt kaldu ayam non MSG (saya pakai Jays)
  • ½ sdt pala butir, parut (saya skip)
  • 1 buah wortel, parut
  • 2 butir telur (saya pakai 2 kuning telur saja karena Dek Adam alergi)
  • 2 lembar roti tawar sobek2 kecil
  • 100 ml susu
  • 2 sdm tepung maizena
  • 1/4 kg tepung roti
  • 1 box keju cheddar, parut (saya 1/2box)

Cara membuat:

1. Gunting-gunting roti tawar lalu rendam dgn susu, biarkan sampai susu meresap kedalam roti tawar.

2. Campur rendaman roti dan susu satu wadah dengan bahan lainnya (daging sapi, ayam, keju parut, tepung maizena, garam, kaldu bubuk, merica, pala, bawang bombay, bawang putih, telur, wortel, keju) kemudian aduk hingga adonan tercampur merata lalu koreksi rasa. Bisa dicoba dengan panaskan secuil adonan di pan dan icipi

3. Siapkan loyang yang sudah dialas plastik tahan panas, tuang adonan nugget ke dalam loyang dan ratakan dengan spatula

4. Kukus adonan nugget selama +/- 30menit dengan api kecil agar matang merata di seluruh bagian adonan (untuk cek kematangan bisa gunakan garpu, tusuk pada adonan bila tidak ada yg menempel pada garpu berarti sudah cukup matang) 

5. Dinginkan nugget yang sudah dikukus bisa diamkan pada suhu ruang. Kaarena pada kondisi ini nugget masih agak lembek belum siap untuk dipotong2/dicetak

6. Jika adonan sudah cukup dingin dan mengeras, keluarkan dari loyang, siap untuk dicetak/potong2

7. Kocok lepas telur, campur dengan sedikit susu full cream

8. Gulingkan nugget ke dalam kocokan telur dan susu, lalu gulingngkan ke tepung roti. Bisa diulang hingga nugget tertutup sempurna.

9. Nugget sudah siap untuk digoreng atau disimpan dalam wadah tertutup rapat dan dijadikan stock frozen food para toddler yang siap diolah kapan sajaa.

Mudah kan? Yuk dicoba!