Jalan-Jalan Ke Tenggarong (Part 2) : Menjelajahi PULAU KUMALA

Nah setelah kemarin cerita tentang perjalanan ke Tenggarong, saatnya saya bercerita tentang pengalaman kami berwisata disana. Kami mengunjungi Pulau Kumala, Ladang Budaya (LADAYA), dan Museum Mulawarman. Sebenarnya kami ingin sekali melihat isi Planetarium Jagad Raya, namun apa mau di kata, doi tutup euy… hiks. Postingan kali ini khusus membahas PULAU KUMALA.


Baca : Perjalanan Ke Tenggarong

Pulau Kumala merupakan pulau di tengah aliran Sungai Mahakam. Awalnya pulau ini dibuat sedemikian rupa untuk wisata dan rekreasi keluarga. Menurut hasil googling, luas pulau Kumala ini sekitar 81hektar. Pulau ini terlihat jelas apabila kita menyusuri Jalan Raya Kota Tenggarong. Sepengetahuan saya ada 2cara untuk mencapai pulau ini, yaitu dengan naik perahu ketinting, dan jalan via jembatan orang (Namanya Jembatan Repo-Repo).

Kami pun bersemangat untuk mengunjungi Pulau Kumala. Mobil dapat di dekat loket masuk tepat di sisi jembatan. Parkirannya bisa dibilang cukup luas, saat itu baru terisi sekitar 7mobil dan puluhan motor. Tiket masuk juga muraaah, hanya 7.000 dan 5.000 rupiah untuk dewasa dan anak.  Sebelum melintasi jembatan, saya menyiapkan stroller, gendongan depan, serta tas berisi cemilan plus minuman.

Melintasi Jembatan Repo Repo

Dek Adam anteng duduk di stroller selama kami berjalan di atas Jembatan Repo-repo. Angin tidak terlalu kencang meski cuaca mendung. Dek Adam terlihat senang, sesekali dia ngambek kalau kami berhenti untuk mengambil foto, hihihi. Panjang jembatan ini tidak sampai 300m, jadi tidak terlalu menguras tenaga untuk mencapai pulau Kumala.

Sesampainya di pulau Kumala, kami melihat taman luaaassss dan banyak anak bermain di situ, namun tidak terlalu ramai… Ada yang naik sepeda tándem 2 bahkan 3 orang, sepeda motor listrik, dan bermain hoverboard. Mata saya menangkap ada spotmakanan, mainan anak, air mancur di sisi kiri…. Namun untuk sisi kanan, hmm, agak abstract. Pohon dan tumbungannya nya terlihat tinggi dari pada spot kiri, mata saya tidak dapat melihat ujung pulau ini.

Kami bertiga berjalan mendekati spot mainan anak. Ulala, ternyata disini menyewakan mobil-mobilan/motor-motoran dengan remote, trampolín dan playground kecil. Dek Adam sempat bermain mobil-mobilan, harga sewanya 20.000/15menit.

Naik Mobil Remote

Bosan dengan mainan yang gini-gini aja, kami berniat mengeksplor pulau ini lebih jauh. Dan karena tidak yakin bisa betah dorong stroller lama-lama, kami menyewa kendaraan di stan-stan yang tersedia. Ada 2 kendaraan yang bisa disewa yaitu kereta kelinci (kapasitas bisa 10orang, harga Rp 100.000/jam) atau motor listrik (Rp. 50.000/jam). Jika rombongan, nampaknya kereta kelinci cukup asyique. Namun karena hanya 2dewasa dan 1anak, kami memilih sepeda motor listrik.

Kami pun berkelana di pulau dengan sepeda motor listrik. WOW suaranya silent abis, kecepatan maksimal 30km/jam. Kami menyusuri jalanan ke spot kanan yang dari tadi membuat kami penasaran. Dan ternyata….  Kami melewati banyak tumbuhan yang tinggi-tinggi, menemukan rongsokan  besi mainan kereta-keretaan, Resort (vila) yang tidak berpenghuni… Rumah-rumah yang dulu disewakan sudah terlihat reot, belum lagi terendam air 30cm dan ditempeli sarang semut. Duh.. Kolam renang kering…. Kami  mengetahui sebuah  fakta bahwa pulau Kumala sangat tidak terawatt, sayang sekali.

Beberapa kali saya berbisik ke suami : “Yang serius yang mau lewat sini… kok berasa ngeri ya… mana sepi… takut euy”. Dasarnya saya penakut, suami tetap bersikeras untuk mencapai ujung pulau. Kami pun sampai dan menyempatkan berfoto. Kondisi ujung pulau ini juga cukup mengenaskan. Ada patung Lembuswana namun terlihat using dan kotor. Kami menyempatkan diri foto di depan tulisan PULAU KUMALA, sebagai bukti otentik hihii.

Berfoto di Depan Tulisan Pulau Kumala

Tidak ingin berlama-lama disitu, kami pun bergegas berkendara lagi. Selama perjalanan kembali ke pusat mainan, kami berhenti di Rumah Lamin dan Rumah Dayak. Kami memasuki rumah Dayak yang isinya tentang kebudayaan Dayak dari pakaian, senjata, hingga alat musik. Rumahnya agak gelap, kesan mistis tidak bisa hilang dari rumah ini. Dek Adam saja sama sekali tidak mau turun dari gendongan. Berfoto di depan Rumah Lamin juga tidak lupa kami lakukan.

Di Repan Rumah Lamin

Setelah puas berfoto kami kembali menikmati perjalanan. Kami menemukan sangkar raksasa (dari kejauhan berbentuk sangkar besi setengah lingkaran) dan gedung tidak terawat. Di ujung lain kami menemukan tower yang cukup tinggi, nampaknya dulu tower ini salah satu bangunan yang menarik pengunjung. Namun sayang, lagi-lagi tower ini menambah daftar “wahana” yang tidak terawat.

Tidak terasa hampir satu jam kami berkendara mengitari pulau Kumala. Lumayan pegal-pegal ternyata yaa duduk lama di motor. Sebenarnya pulau Kumala ini berpotensi untuk jadi kawasan wisata yang asyik, namun……. mungkin belum sekarang. Yah, semoga nanti pulau Kumala menemukan pengelola yang bisa menata pulau dengan lebih baik 😊

Advertisements

One thought on “Jalan-Jalan Ke Tenggarong (Part 2) : Menjelajahi PULAU KUMALA

  1. Pingback: Pengalaman Menginap di Hotel HORISON Samarinda | Every Family Has A Story

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s