Jalan-Jalan Ke Tenggarong (PART 1) : Menikmati Pemandangan Tepi Sungai Mahakam

Jalan-Jalan Ke Tenggarong (PART 1) : Menikmati Pemandangan Tepi Sungai Mahakam

Baru-baru ini saya, suami dan Dek Adam (23bulan) melakukan liburan singkat ke luar kota Balikpapan. Jika dua bulan lalu kami mencoba pergi ke kota sebelah alias Samarinda, kali ini kami bergerak sedikit lebih jauh, yaitu ke TENGGARONG. Tenggarong adalah sebuah daerah di Kutai Kartanegara yang berada di sebelah utara kota Balikpapan dan Samarinda. Menurut aplikasi Google Maps, jarak Balikpapan (dari rumah saya di WIKA) ke Tenggarong sekitar 118km.

Amunisi perjalanan sudah kami siapkan sebelum subuh, antara lain koper isi baju ganti, cemilan, dan bekal sarapan dek Adam. Saya dan suami pun sudah sarapan sebelum jam 06. Tetangga depan rumah berpesan membawa bekal sendiri buat Dek Adam karena di Tenggarong susah cari makanan yang pas untuk Balita.

Kami berencana berangkat sesaat setelah subuh agar tidak terlalu siang sampai disana. Tapiii ya namanyaaa punya balita, Orang tua boleh merencanakan, namun tetap anak yang memutuskan. Dek Adam kesiangan dong. Setelah Dek Adam terbangun, ia segera mandi dan nyemil roti untuk mengganjal perut selama di jalan. Jam 7 kurang kami baru bergerak menuju Tenggarong.

Perjalanan kemarin ditemani hujan rintik hingga kami harus mengatur kecepatan karena jalan licin. Dek Adam pun terlihat menikmati pemandangan dari dalam mobil. Sesekali dia bernyanyi, makan wafer, ketawa-ketiwi, dan tidur. Alhamdulillah Dek Adam sama sekali tidak merasa bosan di carseat, kami sangat lega.

Akhirnya kami tiba di persimpangan Samarinda dan Tenggarong. Kami mengambil jalan arah ke Tenggarong, melewati daerah Loa Janan. Jalan kami sedikit menyempit dari sebelumnya, namun lebih ramai. Daerah ini berada di pesisir sungai Mahakam sehingga kami bisa menikmati sungai tepat di sisi kanan.

Di sepanjang jalan ke Tenggarong kami melihat banyak perusahaan tambang batu bara yang sedang beroperasi.  Di sisi kiri jalan nampaknya banyak daerah gambut dimana batu bara ditemukan. Dari mobil kami bisa melihat ada alat pengantar batu bara dari kiri (lahan gambut) ke kanan (sungai). Alat berat mereka melintasi jalan yang kami lewati. Kami pun berkesempatan melihat proses penurunan batu bara ke kapal pengangkut.

Mengalirkan Batu Bara dari Sumbernya Dengan Alat Berat
Zoom-in Proses Menurunkan Batu Bara ke Kapal Pengangkut

Jam sudah menunjukkan pukul 09.30, kami berniat berhenti di depot untuk menyuapi dek Adam. Benar ternyata…. Susah mencari makanan disini! Kami hanya melihat dua-tiga warung makan, namun rata-rata tidak terlalu bersih. Akhirnya kami menemukan satu depot yang cukup memadai. Saya menyuapi Dek Adam bekal sarapannya, Suami memesan bakso dan minuman untuk berdua. Kami merasa beruntung sudah sarapan dan Dek Adam sudah sempat nyemil roti dan wafer. Meski ia sarapan telat, setidaknya tidak riwil kelaparan di mobil.

Kami pun melanjutkan perjalanan. Kami tiba di Tenggarong jam 10.15,. Destinasi kami kali ini adalah Pulau Kumala, Ladang Budaya (Ladaya), Museum Mulawarman, dan Planetarium Jagad Raya. Empat lokasi ini cukup berdekatan. Dari Pulau Kumala ke Ladaya hanya 10menit. Dari Ladaya ke Museum dan Planetarium juga 10menit.

Sepanjang jalan di Tenggarong, kami disuguhi pemandangan tepi sungai Mahakam. Sesekali ada kapal hilir mudik melintasi sungai. Kami juga dapat melihat Jembatan Kutai Kartanegara atau biasa disebut Jembatan Mahakam II. Jembatan ini menghubungkan antara kota Tenggarong dengan kecamatan Tenggarong Seberang yang menuju Kota Samarinda. Selain menjadi sarana transportasi, jembatan ini juga salah satu daya tarik wisata Tenggarong. Dek Adam sangat antusias melihat jembatan ini sampai dia sangat berusaha duduk tegak di carseat-nya.

Jembatan Kutai Kartanegara alias Jembatan Mahakam II
Pemandangan Tepi Sungai

Meski singkat, jalan-jalan ke Tenggarong kemarin terasa menyenangkan. Kata orang-orang sih biasanya terik, namun Alhamdulillah saat kesana agak mendung jadi kami tidak terlalu kepanasan. Tiket masuk ke arena wisata yang dituju pun cukup murah, maksimal hanya 10.000 per orang. Yaah kalau kita bayar mahal dapat wisata yang bagus kan wajar ya? Padahal “cuma” jalan-jalan begitu saja bersama suami dan anak, namun entah kenapa kemarin saya merasa happy banget.

Sampai saya sempat nyeletuk gini ke suami “Bahagia itu sederhana yah, sayang. Padahal kita wisata gini-gini aja, tapi somehow seneng banget. Rasanya bisa nge-charge energi positif, lho! Apa aku yang lebay ya?”

Suami hanya tersenyum sambil menggandeng tangan saya lagi (Mungkin menurutnya saya kurang piknik???). Kami menghabiskan waktu hingga sore di Tenggarong. Sebenarnya bisa saja langsung nglaju kembali ke Balikpapan. Namun karena membawa anak kecil, kami sengaja menginap Samarinda semalam.

Begitulah sedikit spoiler cerita tentang Tenggarong, cerita mengenai objek wisata yang dikunjungi akan saya posting terpisah ya 😊

Advertisements

5 thoughts on “Jalan-Jalan Ke Tenggarong (PART 1) : Menikmati Pemandangan Tepi Sungai Mahakam

  1. Huaaa lautnyaa laaaff sekalii 😍

    Dari emak-emak kurang asupan vitaminsea hihihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s