Mengatasi Anak Susah Makan (Pengalaman Mama DamDam)

“Ca, Dam2 kok sekarang makannya keliatannya gampang, ya?”

“Ca, Dam2 sekarang gemukan ya”

“Ca, pasti seneng banget ya kalau anak suka makan roti buatan Mamanya. Dam2 pinter banget tuh”

Kira-kira seperti itulah pertanyaan yang banyak diajukan ke saya sekitar 1-2 bulan ini. Ada yang nanya langsung pas liat Dek Adam makan, ada yang nanya pas tidak sengaja bertemu, ada juga yang sengaja chat pribadi ke nomor WA saya.

Jujur saya bingung jawabnya. Karena yang mereka lihat adalah sebagian hasil dari perjuangan dulu. Perjuangan? Iya, rasa-rasanya bukan hal lebay kalau saya bilang masa-masa Dek Adam sama sekali tidak mau makan adalah real struggle.  Kalau suruh jawab dengan terperinci, saya bisa menjelaskan dengan panjang lebar dan butuh waktu banyak. Kisah itu akan saya bagi pada positngan ini. 

Saya bukan dokter, saya anak dokter hewan. Jadi cerita di bawah ini murni pengalaman pribadi, bukan rekomendasi medis dari saya. Oh ya baca dengan sabar yah, karena cerita ini akan panjang. 

Growth Chart Dek Adam (0-21bulan)

Gambar di bawah adalah grafik perkembangan Berat Badan (BB) Dek Adam sejak lahir hingga 21 bulan. Dek Adam lahir dengan BB lahir 2,65kg. Sejak umur 0bulan hingga masa Makanan Pendamping ASI (MPASI), Dek Adam hanya mengonsumsi Air Susu Ibu (ASI) tanpa suplementasi susu lain. Saya menyusuinya setiap hari –saat kami bersama. Ketika bekerja, saya selalu memompa ASI tiap hari di jam-jam tertentu, sehingga ia tetap menikmati Air Susu Ibu Perah (ASIP). Konsumsi ASIP selama jam kerja mencapai 400-600ml/hari.

Grafik Berat Badan Dek Adam (0-21bulan)

Gambar di atas menunjukkan bahwa kenaikan BB Dek Adam di 4bulan pertama termasuk baik, rata-rata 1kg (bahkan lebih) setiap bulannya. Namun mulai umur 5bulan, Dek Adam mengalami penurunan tren kenaikan BB. Sebenarnya hal ini wajar karena anak semakin aktif, namun kasus Dek Adam mungkin agak berbeda. Beberapa hal yang menjadi dugaan penyebab adalah Gejala ISK dan Anemia Defisiensi Besi (ADB).

Baca : Pengalaman Fimosis, ISK, dan Proses Khitan Dek Adam

Baca : Dek Adam dan Suplemen Zat Besi

Grafik tersebut juga memperlihatkan bahwa BB Dek Adam sekarang tidak berada pada rata-rata atas, bahkan menyentuh angka rata-rata anak seusianya  (persentil 50% adalah 12kg) pun tidak. BB dia bulan ini hanya di persentil 5% untuk anak seusianya. Artinya ada sekitar 5% anak sebaya yang memiliki BB sama seperti Dek Adam. Dek Adam tidak gemuk buibu, perut dan pahanya tidak segembil pipinya yang memang uyelable. Alhamdulillah meski BB irit, Dek Adam sehat dan aktif.

Karena dua sebab medis (ISK dan ADB) sudah dibahas di postingan terpisah, saya akan bercerita tentang hal-hal lain di luar keduanya.

 

KEBIASAAN MAKAN SEHARI-HARI (6-12BULAN)

Dek Adam mulai merasakan MPASI pertamanya umur 5bulan 3minggu setelah ia memberikan tanda-tanda siap makan. Menu pertamanya puree alpukat, pisang,  bubur nasi, dan sebagainya. Tepat 6bulan, Dek Adam telah memulai makan 4* yang terdiri dari karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayuran, dan dilengkapi lemak tambahan seperti olive oil.Bahkan saya sengaja cuti di hari awal-awal MPASI untuk mempersiapkan semuanya dan menyuapinya untuk pertama kali.

Dua minggu pertama MPASI, Dek Adam masih mau makan sambil duduk di high chair. Namun sayangnya hal itu tidak lama. Baru MPASI sebulan, Dek Adam hanya mau makan jika duduk di bouncer, to the next level, umur 8bulan dia hanya mau makan sambil main di karpet. OKE, kami menuruti permintaannya.

Cuma Mau Makan di Bouncer

Mulai sejak awal MPASI, Dek Adam memang jarang menghabiskan porsi makan seusianya.  Biasanya hanya seperempat, sepertiga, yaah maksimal setengah porsi saja. Bahkan pernah hanya itungan ruas jari atau hanya butir nasi. 

Di umur 10bulan Dek Adam hanya membuang-buang piring, mengacak-acak makanan. Dia lebih suka mencomoti sebiji-demi-sebiji makanan yang jatuh di karpet. Buah pun hanya masuk sepotong kecil. Ada masanya Dek Adam hanya makan separuh pir untuk seharian saja. Dan itu tidak hanya terjadi sehari, bisa hampir 2minggu. 

Saya sedih, miris. Namun saya masih optimis karena minum ASInya masih banyak. Apabila saya tinggal kerja, dia masih bisa mengabiskan 500ml dari jam 07-18.00, artinya dia sebenarnya memiliki nafsu untuk mengonsumsi sesuatu. Bahkan stok ASIP saya sampai habis, dan saya selalu meng-GOJEK-kan ASIP yang saya hasilkan di kantor untuk dia minum di hari yang sama. Saya tidak terlalu ambil pusing dengan BB dia. Dek Adam sehat dan ceria.

Saya mulai khawatir ketika menginjak umur 11bulan, dengan BB yang segitu-segitu aja alias stuck. Panjangnya yang bertambah membuat dia terlihat kurus bin kuyu. Jadwal makan idealnya mencapai 3x makan berat plus 2kali snack. Kami (saya, suami dan pengasuh) berusaha sekuat tenaga mencoba ini itu namun hasilnya nihil, Dek Adam hanya suka ASI, ASIP, dan cemilan sedikit. Saya berulang kali masak sendiri makanan dia, membeli makanan dari catering, mpasi instan, vitamin ini itu dll, tapi apa daya, Dek Adam masih belum mau banyak makan.


PUNCAK SUSAH MAKAN SI KECIL

Lebaran 2016, Dek Adam pas setahun. Saya, suami, Dek Adam, dan pengasuh mudik ke Jawa. Pengasuh dengan berat hati menyampaikan tidak bisa melanjutkan bekerja di Balikpapan. Saya dan suami tidak mau ambil pusing, akhirnya kami berdua meminta Uti saya (Nenek Buyut Dek Adam) untuk mencarikan penggantinya.

Selama mudik di Solo, Dek Adam yang baru pertama kali mudik, mengalami shock. Dia hanya mau dekat dengan saya. Seperti punya newborn baby, saya sama sekali tidak bisa lepas dari dia. Boro-boro menyiapkan makanan, lha saya mau ke kamar mandi aja susah. Dek Adam super rewel, dikit-dikit nangis. Saya dan suami berusaha sabar dan memaklumi.

Saya cukup kelimpungan mengurusi makan Dek Adam karena dia tidak mau ditinggal ke dapur. Membawanya saat memasak juga tidak mungkin. Padahal saya membawa peralatan perang MPASI, bubur instan, dkk. Suami kasihan melihat saya berusaha keras, akhirnya kami memilih : catering bayi!

Kala itu, tidak mudah mencari catering bayi di Solo. Sekalinya dapat, saya dan suami berangkat kesana. Menunya enaaakkkk, dan DEK ADAM SAMA SEKALI GA MAU MAKANNN!!! *white flag*

Saya hopeless… Suami mencoba menguatkan saya. Kami mampir sejenak di gerai makanan cepat saji. Iseng-iseng menawarkan ke Dek Adam… dia tetep gak mau menyentuh sama sekali. Dia tetap mengandalkan ASI dari saya dan beberapa biskuit bayi. Suami mengajak kami berjalan santai di taman Balekambang. Saya mendorong stoller Dek Adam. Jarang-jarang Dek Adam mau tenang di stroller, saya memfotonya. Hasil fotonya bikin saya sedih……

 

Kurus Banget. Foto Ini yang Mentrigger Saya dan Suami Ke Dokter

Di foto ini saya melihat Dek Adam sangat kurus dan tidak bertenaga Saya berbisik ke suami 

Saya : “Dek Adam kurus banget pah…”

Suami : “Hmm.. gak kok, ga kurus-kurus banget… Mama mau gimana? Kita ke dokter kah untuk konsultasi?”

Saya : “Yuk pah, kita ke dokter”

Akhirnya saya berselancar di dunia maya untuk nama dokter anak di Solo. Kebetulan teman SMA suami ada yang dokter, ia memberikan satu rekomendasi dokter anak senior di Solo.

Hari itu juga kami membawanya ke dokter. Kami bercerita panjang lebar tentang kebiasaan makan dek Adam dan uneg-uneg kami tentang dek Adam yang tidak mau makan. Dokter menyimak panjang lebar, dan dia berakhir pada kesimpulan : 1) Dek Adam Tidak Mengenal Lapar, 2) Tidak Tahu Jika Lapar Harus Makan, Bukan Menyusu.

Hati saya memang tidak bisa mengelak, karena sebenarnya saya ada kecurigaan yang sama, namun saya tidak tahu harus bagaimana. Saya pun hanya bertanya

Saya : “Lalu gimana, Dok?”

Dokter : “Kalau dia susah makan, amati! Cari penyebabnya. Apakah ia tumbuh gigi? Ia sakit? Atau ia hanya sekedar manja tidak mau makan sehingga cuma mau nyusu?”

Saya mengangguk pelan

Dokter : “Kalau penyebabnya adalah tumbuh gigi, sakit atau badan tidak nyaman, berikan makanan yang dia suka setiap 2jam, at least sedikit sedikit ada yang masuk. Tapi kalau penyebabnya yang terakhir, ibu tidak boleh menyerah. Anak ibu sudah setahun, saatnya ia mengetahui kalau lapar itu makan, bukan menyusu. Ia harus dikenalkan dengan rasa lapar. Jika ia lapar, ia (mau gak mau) harus makan”

Saya : “Lha kan saya sering bersama dia dok. Dia jelas pilih menyusu…”

Dokter : “Gini bu caranya. Pertama, jangan kasih ASI/snack apapun 2jam sebelum makan berat. Kalau anak sarapan jam7, maka terakhir ibu menyusui adalah jam5. Selebihnya jangan, alihkan perhatiannya dengan yang lain. Kalau perlu, ibu sembunyi agar dia tidak teringat menyusu. Ada ayahnya kan? Ayahnya bantú jaga anaknya hingga jam makan. Kalau perlu, ayahnya menyuapi anak dulu. Ibu sembunyi saat dia sarapan. Biar dia lapar, biar dia tahu nikmatnya makan.”

Kali ini saya dan suami terdiam

Dokter : “Tenang Pak, Bu, ini hanya sementara. Ini untuk mengenalkan rasa lapar dan nikmat makan kepada anak. Makanan utama anak di atas setahun bukan lagi ASI, melainkan sudah menú keluarga. Kalau setelah makan dia masi mau menyusu, kasih aja sepuas dia.”

Saya : “Kalau sudah seperti itu tapi masih nangis aja dan masih tidak mau makan gimana dok? “

Dokter tersenyum, lalu ia menambahkan

Dokter : “Coba dulu saja bu, kalau masih nangis sampai kejer, yaa ibu susui tidak papa. Coba lagi di jam makan berikutnya”

Saya : “Dok, ada gak sih obat buat merangsang lapar?” 

Dokter : “Oke, saya resepkan ini ya….”

Sepulang dari dokter saya dan suami berdiskusi di mobil.  Kami bersepakat untuk mengubah kebiasaan makan Dek Adam!

 

MEMULAI KEBIASAAN BARU (~13BULAN)

Esoknya saya dan suami mencoba kebiasaan baru. Seusai subuh, saya tidak membiarkan Dek Adam menyusu. Saya coba terus mengalihkan perhatiannya, ia menangis kencang. Suami membawa Dek Adam jalan-jalan mengelilingi sawah.Sebelum makan suami meminumkan obat dari dokter. Masuk ke jam makan……. JENG JENG DEK ADAM MAU MAKAN!!! AJAIB! Alhamdulillah kami sangat bersyukur atas satu per satu suapan yang masuk ke perutnya.

Cara ini kami lakukan secara kontinu hingga menginjak hari ke-7, kami sudah tidak memberikan obat dari dokter. Apabila makan sudah selesai, Dek Adam boleh menyusu. Kami menerapkan jam-jam makan yang cukup strict. Sejak saat itu, jika bepergian, kami akan sangat concern terhadap jadwal dan kebiasaan dia.

Seusai mudik lebaran, kami kembali ke Balikpapan membawa satu pengasuh baru, namanya Mbak Ratna. Alhamdulillah pengasuh yang baru ini sangat cocok dengan kriteria kami.

Di awal masa peralihan mau masuk kerja, saya sering sembunyi saat Dek Adam makan. Saya sembunyi di dalam kamar, sedangkan ia makan di ruang tengah bersama Mbak Ratna. Bahkan ada lo saat-saat dimana saya sembunyi DI DALAM LEMARI karena Dek Adam menangis mencari saya dan hanya ingin menyusu. Meski ia menangis, saya mencoba konsisten untuk tidak tergoda menyusuinya.

Yaampun jika ingat saat-saat itu saya kadang geli, miris, lucu, tapi ya gimana lagi namanya mendisiplinkan anak butuh proses. Di enam bulan awal (13-18bulan) saya menerapkan konsep KENALILAH LAPAR NAK, MAKANLAH SESUKAMU DENGAN CARAMU.

Dek Adam memilih makan dengan disuapi sambil duduk dan main di karpet, sesekali sambil jalan-jalan keliling rumah. Setelah sekitar hampir sebulan rutin tidak hadir saat dia makan, saya bukan lagi menjadi distraksi utama. Sekarang dia tetap makan dengan tenang meski saya ada di sekitar atau dalam jangkauan pandangan dia.

Semenjak menjalani kebiasaan baru di umur 13bulan ini, Dek Adam setiap hari mengonsumsi makan berat 3x dan 2 camilan. Jadwalnya lumayan padat, yaitu : 06.30 sarapan, 09.00 snack 1+susu (bisa ASIP atau lainnya), 11.30 makan siang, 14.30 snack 2, dan 16.30 makan sore. Makan sorenya lumayan awal karena jam 19.30 Dek Adam sudah tidur.

Alhamdulillah sejauh ini Dek Adam bisa menghabiskan ¾ porsi makan. Namun ternyata masalah BB belum 100% tuntas. BB Dek Adam naik dari 8.5-9.8kg selama 6bulan, namun sebulan setelah penimbangan terakhir BB Dek Adam turun jadi 9.4kg saja karena flu. 

Padahal kami memimpikan BB Dek Adam mencapai 2digit di depan koma. Setiap Dek Adam iseng naik ke timbangan analog di rumah (akurasi kilogram, bukan gram), jarum menunjukkan di antara 9 dan 10, itu mepet banget kan. Kami selalu iseng bertanya ke Dek Adam :

Mama/Papa/Mbak Ratna : “Dek Adaam, beratnya berapa nih?”

Dek Adam terdiam….. (dia belum bisa menjawab)

Kami bertiga : “Sepuluh ya dek! SEPULUH!!! Yeee SEPULUH KILO” (sambil kami tertawa miris dan berdoa)

OKE cerita obsesi ini gak penting.


Kami kembali berpikir, jujur kami kehabisan cara, karena jadwal, frekuensi, serta porsi makan Dek Adam sudah baik. Akhirnya kami memutuskan untuk melatih kebiasaan Dek Adam dengan cara baru : MAKAN HARUS SAMBIL DUDUK DI HIGHCHAIR, BOLEH MAIN APAPUN!

Main apapun ini maksudnya boleh mainan sembarang kalir, selain nonton TV dan gadget. Kebetulan kami dan pengasuh sepakat bahwa TV hanya boleh menyala jika Dek Adam tidur; plus kami tidak memberikan gadget apapun ke Dek Adam

Jadi main apa dong? Banyaaakk!

Mau baca buku boleh,

Mau sambil tulis-tulis boleh,

Main transfer beras, kacang tanah, tepung campur air, SOK ATUH!!!!!!!!!!!

*Siap-siap menyaksikan lokasi makan Dek Adam kayak kapal pecah*

Kegiatan Sambilan Selama Disuapi : Main Laptop Ala-Ala (atas), Main Transfer Kacang Tanah (Kiri Bawah), Main Adonan Tepung (Kanan Bawah)

Kenapa akhirnya saya memutuskan mendisplinkan makan di kursi makan? Karena sayang lemaknya euy, uda masuk susah-susah masak kudu terbuang karena jalan-jalan atau lari-larian sepanjang makan. IYA SESAYANG ITU SAYA SAMA LEMAK ANAK, huks.

Tapi hal itu terbayar. Selepas 2bulan setelah mendisiplinkan makan di HC, BB dia naik dari 9.4-10.1kg! Saya dan Mbak Ratna sampai berpelukan. Literally berpelukan, karena rasa-rasanya seperti habis menang undian. Kami senang, kami lega setidaknya upaya jungkir balik ini memberikan harapan baru…. Sehingga kami selalu semangat untuk memberikan yang terbaik buat Dek Adam… Kami percaya hasil tidak akan mengkhianati usaha….

Sekarang nih kalau Dek Adam naik ke timbangan…

Mama/Papa/Mbak Ratna : Dek Adam Beratnya berapa nihh ?

Dek Adam : puyuh………… (sepuluh)

Kami bertiga : NGGAK DEKKK, SEKARANG UDAH SEBELAS YAH!! SEBELASSS!!! 

*tetep sambil penuh pengharapan dan berdoa kencang*

* * * * *

Itulah sekelumit cerita perjalanan makan Dek Adam, penuh drama dan berliku.  Semoga sedikit kisah ini dapat menjadi pelajaran untuk orang tua yang lain. Saat anak tidak mau makan, cermati lagi sebabnya. Mungkin anak lagi tumbuh gigi, sariawan, atau tidak enak badan. Jika di luar itu, mungkin mengajarkan mereka rasa lapar bisa menjadi salah satu solusi.

Berat Badan mungkin memang bukan hal paling penting, namun angka ini merupakan salah satu indikator kecukupan gizi anak. Pantau terus growth chart anak dan aspek perkembangan lainnya (motorik kasar/halus, sosial, bahasa dkk). Jika menemukan keraguan, jangan sungkan untuk konsultasi ke dokter anak.

Regards,

Mama DamDam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s