Kunjungan Pertama Dek Adam ke Dokter Gigi Anak

Kunjungan Pertama Dek Adam ke Dokter Gigi Anak

Hay hay hay semua!

Di umur ke Sembilan belas bulan ini dek Adam akhirnyaaaa untuk pertama kalinya ke DOKTER GIGI ANAK! Jeng jeng jeeeeng~~

Tawa Dek Adam sebelum ke Dokter Gigi Anak

Mungkin sebagian bertanya-tanya, kenapa sih perlu ke dokter gigi anak? Dek Adam sakit gigi? Giginya bolong kah? Gigis? Keropos? NO NO NO, bukan. Inisiatif ke dokter gigi anak ini dimulai dari pembicaraan grup Whatsapp BC June 2015 (kumpulan bukibuk yang anaknya lahir Juni 2015) dimana ada salah satu mama yang mengutip quote :


Ajaklah anak ke dokter gigi, meski belum memiliki masalah serius dengan gigi. Apabila diajak ketika sakit gigi, takutnya akan membuat anak trauma


Read more

Advertisements
REVIEW : CARSEAT JOIE TILT

REVIEW : CARSEAT JOIE TILT

Carseat adalah salah satu wishlist saya dan suami ketika berencana membeli mobil. Sejak membaca forum di web komunitas ibu-ibu, saya merasa penting untuk memiliki carseat, baik dari segi keamanan (INI YANG UTAMA) maupun kenyamanan. Sejujurnya, memilih carseat juga tidak mudah, karena sifatnya memang cocok-cocokan

Saya menghabiskan cukup banyak waktu untuk membaca review yang bertebaran di internet, akhirnya saya sreg untuk membeli JOIE TILT CARSEAT

Dek Adam Nyaman Tidur dan Bercanda di Carseat

Sejujurnya pembelian carseat kala itu cukup terlambat, meski saya sudah punya wishlist sejak hamil, namun ternyata saya baru membelinya ketika dek Adam umur 6bulan. Keterlambatan memiliki carseat ini ternyata berdampak pada sulitnya mendisiplinkan dek Adam yang saat itu sudah keenakan duduk atau tiduran di pangkuan saya saat bepergian. Selama 6bulan pun, saya tidak pernah bepergian berdua dengan dek Adam menggunakan mobil pribadi. 

Read more

REVIEW : POMPA ASI MEDELA SWING DAN SPECTRA 9+

REVIEW : POMPA ASI MEDELA SWING DAN SPECTRA 9+

Hello, readers!

Tidak terasa Dek Adam akan 19bulan pada tanggal 27 nanti, berarti sudah 19bulan juga saya menyusui dan memberikan ASI untuknya (duh 5bulan lagi nyapih dong ya?). Selama 19bulan juga saya memompa ASI untuk dek Adam, karena saya memulai mompa saat dia masih berumur 3hari.

Selama ini ada 2 jenis pompa ASI yang pernah saya pakai, keduanya electric breastpump, yaitu MEDELA SWING dan SPECTRA 9+. Di postingan kali ini saya akan review singkat tentang keduanya! 

MEDELA SWING

Single Pump; Harga di online shop per Juni 2015 : 1.75juta

Penampakan Medela Swing

Keunggulan :

  • Desain pompa bagus, warnanya menarik
  • Tidak banyak printilan karena hanya single pump.
  • Tersedia banyak ukuran diameter puting
  • Memiliki 2 sesi, pijat dan perah sehingga memungkinkan untuk stimulasi di awal memompa

Kelemahan :

  • Lumayan pricey untuk single pump
  • Membutuhkan waktu lebih lama karena harus gantian pompa kanan-kiri
  • Hanya memiliki 3 (atau 4?) macem tingkat pijat dan perah
  • Jarang dapat mengosongkan payudara. Ini faktor cocok-cocokan juga
  • Opened system, alias tidak ada penghalang antara selang dan mesin pompa. Pernah sesekali saat mompa hingga penuh, ASI di dalam botol terhisap oleh valve sehingga ada sebagian ASI masuk selang. Alhamdulillah tidak sampai mesin, namun cukup jadi PR juga untuk membersihkan selang
  • Tidak ada Medela service center di Balikpapan
  • Hanya dapat menggunakan sumber listrik (colok langsung), atau batere kecil. Hal ini tidak memungkinkan untuk memompa dimana saja, alias harus dekat colokan listrik.

SPECTRA 9+ 

Double pump; Harga di online shop per Juli 2015 1.52juta

Penampakan Spectra 9+

Keunggulan :

  • Murah untuk double pump, bahkan lebih murce dari medela single pump
  • Memiliki layar yang menampilkan tingkatan pijat/hisap dan waktu
  • Memiliki 5 tingkatan pijat dan 10 tingkatan hisap. Saya suka fitur ini karena bisa leluasa memilih~
  • Karena double pump, menghemat waktu memompa. Cukup 15-20menit saya menyudahi aktivitas memompa saya
  • Dapat dioperasikan tanpa colokan listrik alias memiliki batere yang built in. Hal ini memudahkan saya untuk memompa dimana saja, di mobil sekalipun. Apabila saya diantar/jemput suami, saya sering memompa selama perjalanan.
  • Batere cukup tahan lama. Saat weekend, charger saya pernah tertinggal di kantor, namun saya tetap dapat memompa sehari 2x hingga masuk kantor.
  • Lebih dapat mengosongkan payudara dari pada Medela Swing
  • Closed system karena memiliki Back Flow Preventer (BFP) sehingga ASI tidak akan masuk ke selang
  • Official instagram aktif dan tanggap jika kita bertanya. Saya simpulan after sales servicenya bagus
  • Memiliki konektor yang dapat menghubungkan corong dan botol yang diameternya berbeda dengan botol bawaan.

Kelemahan :

  • Warna dan desainnya tidak secantik Medela Swing (penting???)
  • Valve kurang awet alias gampang sobek. Apabila sobek, daya hisap tidak optimal. Saya harus selalu hati-hati membersihkan valve, bahkan akhirnya hanya dicelup ke air panas dan membersihkan bagian dalam dengan cotton bud jika perlu. Valve nya mudah dicari di online harganya 30-40ribu. Setiap 3-6bulan saya mengganti valve karena sudah sobek hehe. 
  • Selain valve, botolnya juga kurang awet karena tidak tahan perubahan suhu mendadak. Botol saya pernah bolong saat habis kusiram air panas.
  • Printilan lebih banyak karena double pump dengan BFP.
  • Tuas manual sama sekali tidak bisa dipakai.

Dengan penilaian seperti di atas, saya lebih sering menggunakan SPECTRA 9+ untuk memompa ASI. Saya membeli pompa ini karena saat dek Adam umur sebulan saya mulai menyadari bahwa saya membutuhkan double pump agar tidak banyak membuang waktu. 

Alhamdulillah cocok dengan SPECTRA 9+ baik performa maupun harga. Medela Swing hanya dipakai sebulan sekali dan akhirnya saya flea. Pompa ASI ini merupakan salah satu tools yang membantu saya untuk meningkatkan (atau minimal mempertahankan) produksi ASI. Semoga dapat menyempurnakan menyusui dek Adam hingga 2tahun. aamiin!

Jadi, apa pompa ASI favoritmu? 

Long Distance Marriage

Long Distance Marriage

ALERT! CURHAT COLONGAN DETECTED!

Sudah hari ke sebelas sejak Suami berangkat untuk kembali ke lapangan, tidak jauh, hanya di Papua. Bahkan saat saya hamil muda hingga anak berumur 6bulan, ia dinas di Mesir, sehingga jarak yang sekarang tidak terlalu berarti apa-apa buat saya. Kadang sinyal bersahabat, kadang juga cari masalah, yah namanya juga LDM, kalau bukan fakir sinyal ya fakir teman makan.

Kami menjalani ini belum lama dibanding pasangan lain, sekitar…….. dari awal menikah alias 2,5tahun. Bagi sebagian orang, kami dianggap aneh. Mengapa menikah jika harus terpisah. Dalam hati kami sedikit menolak kalimat itu, meski ya benar adanya, kami berpisah secara fisik…. Setidaknya, bukan hati.

“Cha, gimana rasanya hamil tapi pas suami tidak disini?”


“Cha, gimana dulu lahiran, suami ada gak?”


“Cha, gimana begadang, suami ikut kebangun gak?”


“Cha, gimana Dek Adam? Inget Papanya gak kalau ditinggal pergi?”

 

Pertanyaan-pertanyaan tersebut selalu dilontarkan orang sekitar, apalagi yang terakhir. Otak saya pun tergerak untuk flash back…………..

Saya tidak menyadari kala itu hamil muda, saya naik motor sendirian war-wer kemana-mana, mengurus dokumen pembelian rumah karena Suami bekerja di Jakarta. Saat saya tahu hamil, ke obsgyn pun harus menunggu minggu depannya karena suami tidak di sisi.

Cuti lahiran saya dapatkan ketika kehamilan menginjak 33minggu, lagi-lagi saya tidak ditemani suami untuk sekedar pulang ke Surabaya. Kala itu, Papa saya terbang dari Surabaya 2 hari sebelum saya cuti lahiran hanya untuk menemani saya selama di pesawat menuju Surabaya.

Pun… saat lahiran. Prediksi dokter saya akan melahirkan di minggu 40, jika benar, saat itu suami saya akan dapat menemani saya. Ternyata Alloh merencanakan yang lain, baru saja Calon Papa ini berangkat ke Mesir 3hari sebelum minggu ke-37… ternyata saya harus melahirkan jauh lebih cepat. Ya, ketika dek Adam lahir ke dunia, Papanya masih ada di lapangan Mesir…. Mereka hanya bisa saling menatap via video call, itu lo kayak iklan LI*E, hahaha. Papa Adam baru datang 3hari pasca saya melahirkan

Ternyata sudah 18bulan lebih sejak melahirkan, rasanya masih sama saja, kami jauh-jauhan. Terkadang memang benar terasa sepi………. Tapi apakah se-ngenes itu?

Mungkin tidak semua ngidamku terpenuhi, tapi saat suami off duty, ia lah yang membalurkan balsem di kaki dan memijatnya sepenuh hati. Maklum, berat badan saya naik hingga 25kg saat menjelang melahirkan, berat bok!

Dek Adam baru berumur lima hari saat kontrol ke dsa untuk pertama kalinya, berat badannya turun 3ons, kata dokter penurunannya terlalu banyak, saat itu saya shock karena baru tshu bahwa tidak bisa menyusui dengan baik. Sepulang dari RS, saya menangis sejadi-jadinya di mobil. Kalau kata orang baby blues datang saat awal-awal melahirkan, saya mengalaminya sejak hari tersebut. Saya merasa menjadi ibu yang gagal, jangankan mau merawat anak, menyusui, satu-satu sumber kehidupannya saja saya tidak bisa.

Suami saya menemani saya di saat-saat terpuruk itu. Dek Adam menangis kehausan, saya bingung menanganinya. Saya bahkan sempet berteriak kencang bahwa saya tidak mau megang dek Adam sama sekali. Suami saya lah yang berusaha mengayun-ayun dek Adam hingga ia kembali tidur. Lalu ia memeluk saya kencang sekali, menguatkan bahwa saya bisa melewati ini. Ia pun mengumpulkan brosur dan majalah dari RS mengenai menyusui, ia MELATIH SAYA, MENGARAHKAN SAYA, posisi menyusui yang benar… 

Selama 1bulan penuh, suami rutin tidur jam 9-12siang, karena ia begadang menidurkan dek Adam. Tugas saya hanya makan dan menyusui, selebihnya suami yang melakukan. Dari mandikan bayi, cuci popok, cuci baju bayi, bahkan baju saya.

Sejak 4bulan, dek Adam jarang terbangun malam. Ritme tidurnya pun pas bagi kami berdua, jam 19.30-05.30WITA. Kami tidak lagi banyak begadang alhamdulillah.

Ia selalu mengingatkan jadwal makan dan pumping agar ASI saya tetap deras. Memilah milih makanan diusahakan tidak mengandung telur/seafood agar dia yang makan  karena Dek Adam alergi.

Setiap ia mau pulang, ada yang deg-deg-an, berasa seperti mau ketemu pacar baru. Halah~

Jika suami off duty, ia akan menjadi teman main dek Adam seharian.. Bahkan akhir-akhir ini, hampir setiap siang saat saya bekerja, mereka jalan-jalan berdua. Kurang romantis apa coba! Ngemall berdua, jalan berdua, makan di resto berdua sampai-sampai ditanyain Mbak resto : “Mamanya mana ya Pak?” =))))))))))))))))))))))

Jalan Jalan Berdua Saja.

Belum lagi setiap malam entah lagi jauh atau pun dekat, ia harus mendengarkan cerita, curhatan, bahkan omelan istrinya yang super bawel ini……… ah bahagia ternyata dekat, cuma rasa syukur saja yang dirasa terlalu susah.

“Apapun yang terjadi, kita harus berusaha ikhlas… sudah diusahakan, diupayakan, didoakan, diharap-harapkan, kalau belum kejadian, ya ikhlas…” – gitu kata Suami. 

Ikhlas dari liburan Desember kemarin hampir cancel, jadwal pulang bulan ini (kayaknya) mundur, berat badan belum turun yah ikhlas.. kan sudah berusaha :”

Karena itu… di setiap jadwal berangkat maupun pulang, entah ojek, taksi, pesawat atau pun boat membawanya berlabuh, hanya hati dan mulut ini yang dapat berdoa, semoga senantiasa dilindungi oleh-Nya, dan berkah untuk keluarga kecil kami. Aamiin.

Salam,

Peserta LDM kloter Balikpapan Papua.