Cerita itu kembali berulang. Sebuah cerita yang sengaja kututup saat akhir Juli lalu. Memang sebenarnya sudah berakhir lama, namun selalu ada cerita dibalik cerita yang telah di akhiri. Kala itu aku bercerita dengan seorang kawan di sebuah cafe dekat kampus ITB, Bandung. Dasar memang suka bercerita, dari A hingga G semua keluar, meski belum sampai Z, hehe.

Entah darimana kami saling bercerita, yang jelas aku mengucapkan namanya lagi, ya namanya. Seseorang yang menjadi sosok. Sosok titik tolakku. Sosok yang menjadi penguat saat aku terhempas jauh. Namun, hingga detik ini aku rasa dia gak tahu dan gak pernah tahu apa yang aku lakukan selepas jatuh itu. Pun. Entah dia membaca ini atau tidak, bahkan apa dia masih mengingatku atau tidak, aku tidak tahu.

Meski tidak banyak saling komunikasi, aku tahu setidaknya dimana ia sekarang, hm dan tampaknya pun dia tahu dimana diriku. Bukan berarti mengingatnya membuatku ingin mengulang apa yang pernah terjadi, semua rahasia-Nya. Hanya saja, jika diberi kesempatan bertemu kembali, aku ingin mengucapkan maaf, terima kasih, dan selamat.

Maafkan atas segala sikapku, dulu hingga sekarang
Terima kasih atas inspirasi yang mungkin tidak pernah kau sadari (bahwa aku mempelajarinya)
Selamat atas apa yang telah kau raih, semoga kebahagiaan menaungimu.

Untuk seseorang, sosok.