Tags

, , , ,

Ingat sekali, kala itu hari Jumat. Hari Jumat pertama aku menunaikan ibadah di Masjidil Haram. Bukan main ramainya Masjid Suci yang memiliki Ka’bah dimana selama ini menjadi kiblat umat islam di dunia. Orang Arab, Pakistan, Iran, Irak, Malaysia, Indonesia dan penjuru dunia lainnya tumplek blek untuk beribadah khusyuk di dalamnya.

Selama berada di Mekkah, kami lebih sering menggunakan bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, sehingga kami tidak pernah merasa kurang jika memang tidak bisa bahasa Arab, toh sebagian besar mengerti bahasa yang kami gunakan.Namun ternyata, hal ini menjadi teguran kecil di dalam hatiku.

SHALAT ISYA pun dimulai..

Aku, adik, dan mama terpisah, tidak berjejeran. Kebetulan kanan kiriku adalah orang Turki yang menggunakan bahasa Arab dalam kesehariannya. Biasa saja, seperti sholat sholat sebelumnya, aku pun tidak terlalu kikuk di antara mereka. Mereka sangat menghargai keberadaanku di tengah-tengah mereka.

AllahuAkbar…

Suaraimam menggema dilanjutkan dengan surat Al-Fatihah…

Hingga terdengar aamiin..

Lalu teralunlah sebuah surat…

Bismillahirrahmannirrahim…

(dan ayat ayat berikutnya..)

Subhanalloh, Imam itu menangis

Menangis sesenggukan setiap melantunkan ayat demi ayat, huruf demi huruf surat pendek itu. Aku kaget, tercengang, baru pertama kalinya dalam sholatku, aku mendengar imam menangis seperti itu. Terdengar sekali imam menghela nafas semampunya untuk menahan tangisnya yang tersedu sedu itu..Namun, tangisnya semakin kencang.

Belum selesai heranku, Ibu Ibu Turki di kanan kiriku turut menangis, sesekali mereka mengeluarkan bunyi bunyian “hukss hukss hukss” ibarat anak kecil yang sedang dimarahi orang tuanya.

Subhanalloh, Surat Apa yang Membuamu Menangis, Wahai Imam?

Surat Apa yang Membuamu Menangis, Wahai Imam?

Surat Apa yang Membuamu Menangis, Wahai Imam?

Dan benakku pun berbicara..

Ya Alloh, Apa yang sedang Kau ucapkan dalam surat itu?

Apa yang Kau minta dari kami?

Apa kah itu ucapan ucapan pengampunan kami?

Apakah itu murka-Mu terhadap kami?

Ya Alloh, aku tidak tahu, aku tidak mengerti, bahkan aku merasa hina tak dapat mengerti-Mu…

Semakin panjang ayat yang dibacakan, semakin kencang tangis oarng-orang yang memahami bahasa Arab. Dan aku pun hanya terdiam seraya merasa sangat kecil dan malu. Kakiku pun lemas…

Setelah surat itu selesai dibacakan, maka dilanjutkan dengan ruku’, I’tidal, sujud, hingga sholat selesai.. Pasca sholat, aku mencoba menanyakan ke Ibu ibu di kanan kiriku, tentunya aku bertanya dengan bahasa Inggris.

“Excuse me madam, Did you cry when we’re praying? Could you tell me what’s the name of Surah in the first rakaat?”

Dan ibu ibu itu hanya terdiam, dia tampaknya tak mengerti maksudku. Beliau hanya memberi isyarat bahwa ibu tersbeut menangis, tanpa membertahuku apa nama surat itu..

Dan hingga sekarang, aku masih belum tahu surat apakah itu… Astaghfirullah.

Jika aku tak bisa bahasa Indonesia, aku tak dapat memahami orang sekitarku Jika aku tak bisa bahasa Inggris, aku tak dapat mengerti arti tumpukan buku diktat kuliah…

Jika aku tak bisa bahasa arab… Bagaimana aku bisa memaknai AL-Quranmu?

Dan aku pun terdiam..

Hanya bisa mengingat dan menegur diriku sendiri…