Tags

, , , , , ,

Bukan Persiapan Pendek Menuju Tempat Suci Tersebut

Subhanallah, Alhamdulillah, dua kata itu yang terucap ketika sudah mendapat tanggal fixed untuk melaksanakan umroh ini. Saat itu saya masih di Jakarta untuk magang skripsi, tak pelak, saya pun segera pulang Surabaya. Delapan hari sebelum berangkat, saya pun pulang, namun insyaAlloh banyak persiapan jauh sebelum itu.

 

Persiapan mental, fisik, dan material, tentunya. Terkadang ada ketakutan sendiri ketika ingin menjadi lebih baik, karena berarti akan ada sesuatu baru, yang mungkin saja mempengaruhi bahkan membatasi kehidupan berikutnya. Fisik jelas harus bisa dipaksa berkompromi, negeri Indonesia dan daerah Arab sana cukup beda-beda tipis lah. Sama sama panas, namun kelembaban dan terik mataharinya beda, belum lagi kegiatan selama disana.

Persiapan berupa materi juga sangat diperhitungkan, kedua orang tua sudah berniat sejak tahun 2008 untuk memberikan sebuah investasi bagi kami (mas, adek, dan saya) untuk masa depan. Jadi sebisa mungkin saya ingin membantu niat beliau berdua, numpuk-numpuk hasil melakukan ini-itu hingga koret-koret tabungan beberapa saat sebelum terbang😛

 

Menyempatkan Berulang Kali Ber-Umroh dan Thawaf, hehe, Mumpung di Mekkah

 

Umroh pertama dilakukan langsung seketika sampai di Mekkah, sekitar pukul 21.00. Sebelumnya kami berangkat dari Madinnah (jam 15.00), mengambil miqat di Bir Ali lalu melakukan perjalanan ke Mekkah. Mekkah-Madinnah memerlukan waktu sekitar 4-6 jam bergantung sopir, hehe😛

 

Hari itu pertama kali saya menginjakkan kaki di Mekkah, pertama kali melihat ramainya Masjid, pertama kali melihat bangunan segi empat yang selama ini menjadi jujukan arah bersujud kepada-Nya. Tak ada yang bisa saya ungkapkan, air mata pun menetes, banyak memori yang bergentayangan dalam pikiran, aneka degub kata bergejolak di hati.

 

Dengan dibantu muthawif untuk mengawali doa-doa (muthawif itu semacem guide atau pembimbing), kami pun melakukan thawaf (sebelumnya sudah mengambil miqat dan berniat ihram) tujuh kali. Selama berjalan mengelilingi Ka’bah, mulut ini tak berhenti mengucap doa, mata-tangan-raga dan hati tak berhenti menyapa dan meng-agung-kan-Nya, bershalawat.

 

Thawaf selesai ketika telah sampai di pilar hijau untuk ketujuh kalinya. Kami pun dibimbing untuk berdoa dan melakukan shalat sunnah. Air mata ini tak kunjung redaaa. Permintaan pengampunan, harapan, doa semua tercurah. Isak tangis kanan kiri sama sekali tidak mengganggu hati ini untuk terus berucap istighfar dan syukur. Banyak doa yang dipanjatkan disana, beberapa list titipan teman juga dibacakan ketika berada disana.

 

Seusai berdoa, kami pun minum air zam-zam lalu melanjutkan umroh, yaitu Sa’I dan tahalul. Sa’I dan tahalul memiliki lokasi yang agak berbeda, yaitu di salah satu tepi Masjidil Haram (namun tetap di bagian dalam). Sa’I dilakukan tujuh kali dengan cara lari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah. Selama sa’I , juga terus berdoa. Hingga akhirnya mengakhiri umroh dengan tahalul, yaitu menggunting rambut.

Alhamdulillah Umroh pertama yang kuniatkan untuk diri sendiri ini lancar.. Semoga diterima olehNya, aamiin..

 

Umroh selanjutnya bisa diniati untuk mengumrohkan makhluk yang sudah meninggal mendahului kita, bisa saudara atau kerabat, atau siapapun, karena orang yang sudah meninggal itu bagaikan orang yang terjebak di tengah laut, tidak bisa apa-apa, hanya bisa mendapat pertolongan. Selain umroh untuk yang sudah meninggal, umroh bisa diniati untuk mengumrohkan makhluk yang dirasa kurang mampu (lansia, cacat, dsb). Niatnya dilakukan saat mengambil miqat, kita harus menyebut nama dalam niat yang kita ucapkan.

 

Alhamdulillah, umroh kedua lancar meski dilaksanakan pukul 13.00 dimana Ka’bah lebih lengang (namun tetap sangat ramai) karena cuaca sangat panas. Dan yang ketiga juga berjalan baik meski dilaksanakan pukul 23.00 tanpa bimbingan muthawif, alias kami sekeluarga berdoa sendiri.

 

Selain umroh, kami (khususnya sekeluarga) juga melakukan thawaf saja, Tanpa berniat ihram dan mengambil miqat, kami berjalan mengelilingi Ka’bah tiada lain untuk berdoa. Namun kapanpun dan bagaimanapun ibadah-ibadah tersebut dilakukan, tangis ini tak pernah berhenti.

 

The Best Moment : Ngeloni Ka’Bah

 

Ini dia, salah satu momen dimana (lagi-lagi) air mataku mengucur derass. Meski tak hingga mencium Hajar Aswad (karena saat thawaf sangat berdesakkan dan cukup mengkhawatirkan), Papa melindungi kami berempat untuk jalan pelan-pelan dari lingkar luar thawaf hingga bisa menyentuh Daerah Hijr Ismail dan mencium Ka’bah.  Seketika sudah sangat dekat, kami pu ngeloni Ka’Bah, dipeluuuuuuukk dan dicium. Wanginya. Dan kembali mengingatkanku akan siapa diriku di hadapan-Nya. Allahuakbar.

 

Tak pernah kehilangan takjub, kekaguman dan haru itu.

Berada di rumah-Mu, tempat jujukanku bersujud membuatku merasa sangat kecil.

Derasnya air mata ini bukan apa apa dibanding derasnya dosa yang pernah kubuat sebelumnya dan apa apa yang Kau berikan selama ini.

Terima kasih ya Alloh, Kau mengundangku…

Terima dan berkahilah semua ini, ya Rabb.. aamiin..