SEA Games 2011 telah berakhir, Indonesia dinobatkan sebagai JUARA UMUM dalam even dua tahunan tersebut. Perhelatan olah raga terbesar di Negara ASEAN tersebut berjalan cukup dramatis untuk tuan rumah, bagaimana tidak, kemenangan besar dengan 182 emas tidak disertai dengan emas sepak bola. Meski begitu, riuh ramai malam penutupan tetap menggema dengan sajak sajak kecintaan dan kebangaan dari warga Indonesia, khususnya kami, para PEMUDA INDONESIA.


“ Kebanggaan dan kecintaan kami terhadap Indonesia tidak akan luntur, bobroknya negeri ini hanya akan terjadi sekarang, tidak untuk esok, kami berjanji.. Indonesia Jaaaaya !”

Kurang lebih itulah yang kami tanamkan saat mengikuti sebuah acara dari Kementrian Pemuda dan Olah Raga yang dikemas dalam camp di Jakarta selama 5 hari. Camp ini bukan camp biasa, melainkan camp nasionalis multikurtural dengan semangat juang pahlawan dan antusiasme SEA GAMES. Berangkat dari masalah kesiapan para pemuda Indonesia dalam menyongsong ASEAN Community 2015, INDONESIAN YOUTH CAMP 2011 ini diselenggarakan. Pesertanya beragam dari Sabang hingga Merauke, dari status siswa SMA, anggota pramuka, perwakilan organisasi kemahasiswaan, peserta pertukaran pelajar, hingga anggota organisasi kepemudaan.

IYC 2011 : Membakar Kembali Semangat Pahlawan

IYC 2011 berhasil membakar ulang semangat  kami, para peserta.  IYC 2011 berlangsung empat hari dengan diisi oleh berbagai kegiatan kepemudaan seperti diskusi dengan berbagai tokoh masyarakat hingga kegiatan lapangan. Kegiatan diskusi bersama ini menghadirkan sejumlah tokoh pemuda diantaranya Koordinator Lembaga Studi DaNaTa Kemal Surianegara, mantan Ketua PB HMI Arief Mustofa, pakar komunikasi Bima Arya Sugiarto, budayawan Dik Doank, hingga pakar hukum Jimly Asshiddiqie.

Banyak hal yang didiskusikan selama materi, salah satunya mengenai patriotisme dan nasionalisme yang dibawakan oleh Kemal Surianegara. Dalam pembahasannya, beliau mengangkat beberapa pengertian menurut para ahli. Patriotisme tidak sama dengan nasionalisme. Nasionalisme lebih bernuansa dominasi, superioritas atas kelompok bangsa lain. Tingkat nasionalisme suatu kelompok atau bangsa, ditekankan pada adanya perasaan “lebih” atas bangsa lain. Dibandingkan dengan nasionalisme, patriotisme lebih berbicara akan cinta dan loyalitas. (Blank & Schmidt). Beliau mengatakan bahwa patriotisme (rasa cinta Tanah Air) merupakan padanan universal dari nasionalisme (rasa kebanggaan nasional) dengan tingkat kesadaran masyarakat yang lebih tinggi dan bertekad hidup secara bersama secara rukun, damai atas dasar prinsip ajaran para leluhur Nusantara.

Tidak hanya mengenai kecintaan pada Indonesia, IYC pun membuka mata kami mengenai peranan pemuda dalam kancah politik, dalam sesi itu, Bima Arya menjelaskan dengan detail perjalanannya dari menjadi pengamat politik dan akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan PAN. Seluruh materi disampaikan dengan detail dan penuh semangat, materi yang berat pun terasa hangat dan ramah di telinga kami.

Keseluruhan diskusi mengantarkan peserta untuk membuka mata lebih luas, menggemakan darah juang kami. Bahwa kecintaan pada Indonesia bukan berarti menjelekkan Negara lain, berpolitik pun merupakan salah satu cara memperbaiki keadaan Indonesia, dan kami-lah para penentu masa depan bangsa.

 

IYC 2011 : Gak ada Matinya !

Bersama dalam empat hari membuat kami cukup dekat dan mengenal keseluruhan peserta. IYC dikemas secara fun. Tidak melulu materi, tetapi juga culture performance, bernyanyi bersama, games, keliling Jakarta, menonton SEA Games dan sebagainya. Kekeluargaan pun terbentuk, hingga cinta lokasi pun tak terelakkan. Di malam terakhir terjadilah sebuah momen lucu antara seorang panitia dan peserta. Makasaya secara pribadi pun yakin, ada beberapa cinta lokasi yang tidak terlihat dan berhasil dibawa pulang oleh peserta :p

IYC 2011, KIBARKAN MERAH PUTIH !