Ya habibi..
Pagi ini datang kembali membangunkanku dari mimpi yang terus kurajut.. Inginku untuk tetap tidur, hingga tak perlu merasakan atas sedih dan pahitnya semua ini.. Inginku tetap terpejam, hingga tak perlu melihat riuh dan sunyi duiniawi..

Ya habibi..
Aku seperti buku tulis yang sudah penuh dengan catatan penting namun terlupakan dan dibuang..
Aku seperti sajadah yang amat merindukan seseorang bersujud di atasku..
Aku seperti do’a yang selalu dipanjatkan ketika mereka kesusahan dan dilupakan ketika mereka telah mendapatkan yang mereka inginkan..
Aku..

Ya habibi..
Lelah membasahi baju yang menempel pada tubuh..
Setiap nafasku berlomba lomba mengejar peluh..
Penat dan kecewa memelukku dengan erat..
Serasa hati menjerit, terimpit, namun tetap saja, kau tak melihat..

Ya habibi..
Berkali kali ku baca kata-katamu, ketika dalam amarahmu dan ketika kita terjebak dalam romantisme dunia.
Tak pernah bosan dan lelah aku memandang gambar senyum kita. Tak pernah aku lewatkan momen itu tanpa aliran sungai deras di pipi.

Berkali kali jua ku menunggu kiriman pesan darimu ketika aku sejenak melupakan masalah kita..
Tak pernah bosan ku menanti senyummu,
Tak pernah aku lewatkan hari tanpa rasa haru, yaa haru karenamu, ya habibi..

Ya habibi..
Kadang aku marah pada Tuhan ketika kita seperti ini, yang seharusnya aku marah pada diriku.
Kadang aku menyesalkan semua yang kita lewati ketika Ia mengujiku lewat dirimu..
Kadang aku merasa lemah, sungguh, terlebih ketika kau tak sedikitpun mengertiku..

Tuhan,
Maafkan aku yang menduakan cinta-Mu hingga aku lupa.
Maafkan aku yang tak pernah ada diri-Mu di hatiku.
Maafkan aku yang telah salah menempatkan diri-Mu.
Kini Kau ada dan Insya Allah akan selalu ada.

Ya habibi..
Kutulis ini dengan segenap maaf tulus pada-Nya dan segenggam air mata kerinduan untukmu..
Kini aku hanya ingin kau tetap ada di sini, di sampingku.
Bukan kita yang seperti ini..

🙂