Bismillahirahmanirrahim..

Kekasihku..

Lihatlah di luar sana, malam semakin pekat dan bulan makin menyombongkan sinar pantulannya. Tapi entah mengapa hati ini masih saja gundah. Masih bisa kurasakan kehadiran akhirmu disisiku.

Rintisan gerimis membasahi jendela kamar, seolah tiap rintiknya membisikkan tentang hal yang sama yang kurasakan, sebuah penantian panjang. Menanti kapan penantian akan berakhir

Mengingatmu adalah kesalahan yang menyenangkan. Merindukanmu bak bir yang memabukkan, beraroma indah di antara mimpi mimpi yang tak jelas, nyata ataukah hanya baka.

Entah dimana ku temui barisan kalimat bahwa merindu menjadikan seseorang merasa sendiri. Kesepian. Dan diriku, sungguh beruntung masih diperbolehkan dan bisa mengingatmu dan merindukanmu.

Meski sebenarnya ada rasa ketakutan yang mendalam di antara caraku mencintaimu. Aku takut, bila rasa ini salah karena berlebih dalam memaksakan inginku hingga aku bisa lengah akan cinta untuk-Nya

Dalam setiap kau melintas di pikiranku, aku khawatir,
Aku lebih banyak menyebut namamu timbang nama-Nya.
Rinduku padamu lebih besar ketimbang rinduku pada-Nya.
Dan aku takut,
Ketika ku menemukanmu, ku akan meninggalkan-Nya.

Aku hanyalah manusia biasa. Mungkin banyak kesalahanku dalam hidup ini yang menyimpang dari jalan-Nya.
Seperti yang selalu kau ajarkan dalam setiap doa, bahwa DIA adalah segalanya, Tuhan semesta alam.

Tapi kini..
Seolah aku semakin bisa menduakan dengan lebih banyak ingat padamu ketimbang dengan-Nya.
Benarkah ini ujianNya melalui kehadiranmu dalam hidupku?

Lebih baik Kau hilangkan saja perasaan ini jika hanya menguras imanku.
Namun ya Rabb, mohon jagakanlah hati kami bila dengan kedatangannya akan membawa kebaikan dalam diri ini dan menambah rasa syukur pada-Mu.
Hanya saja semakin hari hamba semakin ragu akan cinta yang bukan lagi sebagai ibadah yang diniatkan, melainkan hanya kesenangan terselubung dalam dosa.
Astaghfirullah…

Karena orang yang sedang jatuh cinta itu buta hatinya, maka tolong jangan tutup mata iman kami yang hanya sepotong ini.

Karena aku mencintainya, aku ingin bisa mencintainya dengan cara-Mu, mencintai imam dalam shalatku.
Bagaimana caranya?
Maka tolong bimbingkah kami dalam membangun istana kehidupan kami, nanti. Amin..

Sudahkah kau tahu bagaimana jalanku untuk bahagia?
Bersama malam dan percikan air suci serta gelaran sajadah ini, dengarkan aku, dan perhatikan.
Karena dari situlah kebahagiaan kita akan tumbuh…