Tags

, , ,

Pagi masih sama, redup cahya biru.
Siang pun masih sama, terang menyilaukan kalbu.
Jingga terbenam matahari masih kulihat berbalut ungu.
Semua masih sama seperti kemarin.

Kamarku masih berantakan.
Penuh tugas gambar yang tidak segera kuselesaikan.
Posisi lemari, meja, kursi, kasur pun tanpa perubahan.
Masih ada satu boneka teddy bear super besar di pojokan.
Semua masih sama seperti kemarin.

Pak penjual tahu tek juga belum berpindah profesi menjadi tukang sol sepatu,
ataupun pemain sirkus.
Ibu jamu gendong pun siang tadi masih menawari sebotol madu,
bukan racun tikus,
Semua masih sama seperti kemarin.

Semua masih sama seperti kemarin.
Semua masih sama seperti kemarin.
Semua masih sama seperti kemarin.

Semua masih sama seperti kemarin.
Kecuali
Kecuali
Kecuali
Kita!

Saya berharap hari ini tiada
Saya berharap tanggal ini dihapuskan dari dunia
Saya berharap dia, yang barusan membuat saya gila,
Mengulang sepuluh menit lalu saat kami masih bersama.

Ini bukan hanya masalah perpisahan
Melainkan kedewasaan
Jangan hanya menyodorkan kesalahan
Kesalahanku memang banyak, segunung anakan.
Dan kau, tak sekalipun mencoba mendengarkan.
Ada satu permintaan hati untuk menyumpal, ya sebuah pembelaan.
Namun apa arti pembelaan tanpa pengertian

Ternyata dirimu pun masih sama seperti kemarin

Tiada yang baru dalam goresan tinta hidup
Kamu hanya jalan sesukanya tanpa melihat dari mana angin bertiup
Cemooh, caci maki, pujian, dan kritikan seakan mental
Kamu telah menutup mata hati dengan kain gombal?

Hey.
Sadar, tuan.
Kemana kau mengarahkan perjalanan ini
Kamu nahkoda dalam perahu
aku hanya pemutar roda membantumu
Tak pegang kendali
Hanya punya tali

Harapku tidak banyak
Pikirkan langkahmu sebelum pergi beranjak
Dengarakan kanan kirimu sebelum gas diinjak
Luangkan waktumu untuk menyelesaikan amanah di pundak..