Tags

, , ,

trap trap trap trap..
Kunaiki tangga dengan cepat, nafasku memburu,

“Jangan sampai telat, haduh haduh…”

Yessss!!!!
dia belum datang – gumamku

Aku menepi di belakang tembok putih sambil memandangi lapangan kampus..
Mataku bergerak menunggu sosok seseorang dari jalan raya..

Dimanaa dia..
Kok belum datang..

Semenit.
Dua menit.

Itu dia!!!

Hari ini dia memakai jaket hitamnya dengan celana jeans pipa. Tampaknya dia memakai kemeja biru muda,
hm warnanya terlalu samar.

Helmnya teropong plus motor cowoknya membuat dirinya terlihat lebih gagah. Dia memarkir motornya, melepas helm, dan turun dari motor. Cara jalan yang tegas ditambah perawakannya yang bagus menjadi nilai plus di mataku. Ditambah lagi cara ia berbicara, mengacungkan tangan, menatap mata, berdiskusi, dan semuasemunya. Hal hal menarik itu tidak akan pernah bisa aku jabarkan satu persatu..

Kebiasaanku selama ini cukup mengerikan. Sudah ke tujuh belas kalinya aku harus bangun dan berangkat pagi-pagi ke kampus.. Hanya untuk dia..
Ya – dia..
Entah kenapa aku sukaa sekali melihatnya menaruh motor.
ketika itu, aku akan fokus pada semua gerak geriknya.. lalu?
Aku akan lari menghilang dari pandangannya!
Jangan sampai ia tahu ada juniornya belagak seperti psikopat sedang memperhatikannya.

Siapa dia?
Dia, senior kampus jurusan sebelah yang…
Yang kusuka
Eh bukan.
Kukagumi.
Eh bukan juga.
Kusuka deh,
kusuka adalah kata yang paling passs.

tapi, dia tak mengenalku, sama sekali tak mengenalku, mungkin tahu aja tidak

Lalu, Bagaimana denganku?
Jangan tanyakan itu.
Aku tahu namanya, nama lengkapnya, hobinya, motornya, rumahnya, IPKnya, hingga mata kuliah yang dia ulang pun aku tahu. Mungkin aku lebih tahu detail tentang dirinya daripada sahabatnya. Mungkin aku tahu hal kecil yang sahabatnya pun tidak ngeh sama sekali.

Ini nih ini..
Suka diam-diam.
Suka diam diam membuatku sukses untuk mengetahui segala tentangnya, dengan apapun caranya..

****

Lucu sekali kaalau aku mengingat hal itu. Itu sudah setahun lalu. Sekarang dia sedang tugas akhir dan aku sudah mencoba untuk move on alias pergi dari segala caraku menyukainya. aku tak lagi menunggunya datang ke kampus, memperhatikan ketika ia makan siang di kantin, melihat lihat tingkahnya, atau apa pun lah tentangnya. Aku sudah niat berhenti berhenti, toh tidak mungkin aku dengannya.

Terlalu jauh, gap terlalu besar.

Malam nanti adalah pergantian tahun ke 2012 dan sekarang sudah 23.05,
Tiada tanda-tanda teman2 kakakku datang. Padahal rumahku sudah penuh makanan untuk pesta tahun baru ini.

Truut truuutttttttt. Handphoneku bergetar.
“Halo” jawabkuu
“Caaa, lapar” — suara Dhika – teman baik plus teman gilaku – terdengar sangat melas
“Udah sini o wes, di rumah banyak makanan”
“Hmm tapi aku sama temen2ku, ada rio, fariz, mas hendra dan mas Aris…”
“Ups.. What?” — dalam hatiku, what?? Mas aris mas aris!
Yaampun baru saja aku memflashback masa itu dan bertekad melupakannya, dan sekarang dia mau kesini…

“Gimana ca? Bisa?”
“Eh eh eh. Iya monggo…”

Huaaa, rasanya melting melting melting.
Wajahku merah, sesaat lagi, dia yang telah setahun kukagumi.. Akan kesini…

Malam itu serasa setahun -yaiyalah secaraaa pergantian tahun 2011 ke 2012-
Akhirnya aku bisa mengenalnya..
Aku bahkan bisa merasakan tertawa lepas bersamanya, main kartu, lihat kembang api.
haduh tidak pernah terpikirkan olehku bisa merasakannya. Untuk berandai-andai mengenalnya saja aku tak berani.
Suer deh, seumur2 barupertama kali aku girang sampai kayak orang gila..

Apalagi Saat perkenalan tadi..
“saya oca, mas”
“Iya, saya aris, makasi ya dek boleh mampir kesini..”

Aris? Iya mass aku tahuu taahhuu sangat sangat tahu.
mas aris mas aris, Aku lo malah sudah tahu siapa nama panjangmu, nama adikmu, alamat rumahmu!!
Sudah setahuun aku sukaa denganmuu.. Huhhuhu — rasanya ingin meneriakkan ini di telingamu!!!!.

“Iya mas, sama-sama”…

Melting?
Banget!
Akhirnya dia mengenalku!

******
Hari hari berikutnya melaju seperti biasa. Semakin hari semakin intens berkomunikasi.
Dia mendapat nomerku dari Dika, itu pun dia mencuri2 mencatat nohPku tanpa sepengetahuannya dika..
Deuh rasanya sudah melayang di atas awan.
Dan kami pun semakin dekat.

Senang. Keluar bareng.
Senang. Nonton
Senang. Lihat pameran
Senang. Jalan jalan
Senang. Makan eskrim

Biasa. Hmm.. Jalan jalan lagi.
Biasa. Nonton lagi.
Biasa. Keluar bareng lagi..

Hambar. Gini lagi.
Hambar. Capek menunggu kepastia
nHambar. Hambar. Hambar. Hambar

Heh??!!Senggenah ae mas, sudah 6 bulan ini kita deket.

Rasaku padamu tampaknya mulai habis tergerus waktu.
Aku bukan tipe yang mudah bosan sebenarnya.
Namun? Aku juga bisa gila kalau kamu gantung, aku bukan baju.

Ketika rasa itu hilang, malah terjadi hal di luar dugaan. Siang itu dia menghampiriku di perpustakaan dan mengajak makan siang

“Ca, mas mau bilang serius nih.”
“Heh? Apa mas?..”
“Sebenarnya…”

Dieng!
Kaseppp!!!
Haduh mas telat deh, sekarang saya sudah sangat biasa sama kamu, gak lebih — pikirku.

“Maaf mas, gabisa..”

Siang itu berakhir dengan penolakan yang sebenarnya sangat ingin kuhindari.
Saya benar-benar takut dan bimbang
.Aku gak lagi punya rasa khusus, namun?
Aku takut menyesal menolak orang yang sempat membuat aku hampir gila karena cinta.Tapi aku tahu, tampaknya aku akan sangat berdosa menerimanya ketika aku tidak berperasaan apa-apa.

Lebih baik sendiri-sendiri.

*****

Dan sekarang?
Sudah tahun 2015.
Aku sudah punya pacar lagi, sudah sempat putus nyambung, dan sebagainya.
Kudengar kabar ia pun begitu. Ia sempat punya pacar setelah 2 tahun mengejarku dan akhirnya menyerah
Dia belum tahu aku sempat memendam rasa begitu lama hingga rasa itu hilang termakan masa.

Sampai pada suatu kesempatan…
kami dipertemukan dalam forum resmi.
Mata kami saling beradu pandang.
Aku menatapnya dalam dalam.
Mata itu masih sama.
Dia semakin keren dengan jas dan dasinya.
Senyumnya.
Dagunya.

Dan debar ini kurasakan lagi..
Sakit, sakit, dia tak tahu aku sempat benar-benar menyukainya.
Bahkan sampai detik ini,
Saat dimana kami sudah menjalani cinta masing-masing.
Dia sudah sempat putus nyambung dengan wanita-wanitanya.
Pun denganku.
Aku tahu dia sempat menyukaiku,
Namun ia taktahu aku sempat begitu menyukainya.

Memang ya,
Cinta diam diam lebih menyakitkan
.Lebih menyakitkan timbang cinta yang ditolak.
Kenapa?
Karena sidia tidak tahu dan tidak pernah tahu dengan apa yang kurasa..

*the end*