Tags

, , , ,

“Saya benar2 membenci ibu. Beliau lebih memilih saudara saya ketimbang saya untuk hidup..”

 

****

Aku adalah anak kembar, aku perempuan dan saudaraku laki-laki. Meski beda gender, kami tetap kembar, kembar tak identik. Ayah dan ibuku hanya orang biasa, bekerja sebagai buruh pabrik,

kami hidup sederhana di Tangshan, Cina .

Keluarga kami benar-benar hancur setelah kejadian malam itu, ya, Gempa Tangshan tahun 1976.

Gempa ini meluluhlantakkan desaku dan membuat titik balik dalam hidupku.

Ayahku meninggal.

Ibuku dan sodara kembarku? Mereka selamat.

Dan aku?

Aku dianggap mati oleh mereka.

Padahal aku selamat.

Yang mati adalah satu, cintaku pada ibu.

Gempa itu membuatku benar benar menangis. Tidak hanya mata, namun juga hati. Setelah kutahu ayah meninggal, aku harus tahu bahwa ibu lebih menghendaki saudaraku untuk hidup.

Saat itu, aku dan saudaraku sama sama terjepit di runtuhan gedung. Kami tertimpa tembok besar yang sama. Aku di sebelah kanan dan saudaraku di sisi lain.

Tampaknya keadaan saudaraku masih lebih baik ketimbang aku. Saudaraku masih bisa teriak teriak minta tolong sedangkan aku sudah tidak kuat.  Aku hanya bisa mengetukkan batu, menandakan aku hidup. Ia tahu aku hidup, dan ibu pun begitu.

Dari kejauhan di atas sana, ibu meneriakkan nama kami. Ibu ditolong beberapa orang relawan. Dan akhirnya mereka menyadari bahwa kami terjepit tembok yang sama.

Orang 1 : “mereka terjepit tembok yang sama. Kamu harus memilih salah satu. Tak bisa menyelamatkan keduanya

Ibu : “dua duanya. Saya ingin dua duanya. Suami saya meninggal, saya ga ingin kehilangan merekaa dua duanya, selamatkan mereka.

Orang 2 : “

tidak bisa bu, anda harus memilih. Jika ibu memilih anak perempuan di sisi kanan, maka sisi kiri harus terjepit, dan sebaliknya.”

Suara mereka terdengar oleh kami.

Aku tahu bahwa saat itu kami harus dipilih. Siapa ? Siapaa yang ibu pilih …

Orang 1 : “jika ibu lama, kami akan menolong yang lain dulu. Banyak yang membutuhkan pertolongan.”

Ibu : “selamatkan.. Selamatkan.. Anak lelakiku, ia di sisi kiri..”

Jderrr!!!

Aku harus mendengar itu,

Artinya aku harus siap mati di tangan ibuku sendiri.

Aku tak bisa berucap, air mataku semakin deras.

Aku benar-benar sakit hati…

Dan semuanya gelap…

*****

Itu dulu, sekarang aku sudah menjadi dokter. Saat itu aku hanya kehilangan kesadaran.

Beruntungnya aku diadopsi sepasang TNI muda. Dan aaku sangat disayang oleh mereka.

Hidupku jauh lebih baik. Ketika mereka menanyakan identitasku aku selalu belagak tidak ingat.

Bukan hanya belagak, aku benar-benar tidak mau ingat.

Entah apa yang terjadi oleh ibu dan saudaraku, toh aku punya hidup sendiri.

Aku sudah tidak mau urusan lagi dengan mereka.

Mereka menganggapku mati, aku pun tidak akan mencari mereka.

Saat aku mulai beranjak dewsa,Ibu angkatku meninggal karena sakit, akhirnya aku tinggal dengan aayah. Sesaat sebelum ibu meninggal, ia memberiku arloji

Beliau mengatakan bahwa aku harus mencoba kembali ke Tangshan. Menilik famili yang mungkin masih hidup. Argh..

Namun karena salah pergaulan, aku harus punya anak di luar nikah.

Pacarku kabur meninggalkan cina. Aku pun pergi dari sekolah untuk waktu yang lamaa,

aku mengasingkan diri. Aku malu dengan aayah dan alm.ibu.

Akhirnya di pengasiangan tersebut aku menikah dengan bule yang lebih tua dariku 16 tahun.

Dan aku pun memberanikan diri untuk pulang ke rumah ayah.

Ayah marah.

Aku memang layak dimarahi.

******

Gempa terjadi lagi di tahun 2008 di tempat yang berbeda. Gempa kali ini hampir sama besarnya ketika tahun 1976 dulu. Mendengar hal itu, ini aku bertekad menjadi relawan.

Aku ingin, ingin membantu korban. Aku tidak ingin ada anak yang merasakan penderitaanku karena terbuang akibat gempa.

Di tengah ramainya camp pengungsian,

Ada seorang ibu berteriak minta tolong.

Oh anaknya terhimpit tembok besar.  – batinku

Sama sepertiku dulu. Bedanya, ia sendiri, ia tak perlu “di-judi-kan”

Oh ternyata masalahnya tidak sesederhana itu.

Anak kecil itu tertimpa tembok gedung yang sangat besar.

Jika tembok itu digeser, maka reruntuhan akan jatuh dan sangat bahaya.

Ibunya menangis keras,

aku hanya bisa menenangkannya dan menginfus anak itu agar tak lemas.

Ibu : Tolong, tolong anakku..

Petugas : ibu, jika ibu ingin anakmu hidup, kami harus memotong kakinya yang terhimpit

Ibu : jangan jangaaannn.. saya gak sanggup..kasian anak saya..

Petugas : cepat bu! Waktu kita tidak banyak!

Ibu itu hanya menangis. Aku teringat ibuku.

Aku melihat sedikit bayangnya.

Aku melihat wajah ibu tersebut, wajah penuh resah dibalut dilema.

Ibu :

potonglah…

Satu kata itu bagaikan listrik yang menjalar dalam tubuhku. Langsung saja petugas mengamputasi dengan alat dokterku. Anak itu langsung dibawa ke ambulans. Ibu itu hanya menangis tersedu di belakangnya.

Tiba-tiba ibu tersebut berlari ke arah reruntuhan,

seakan ingin mengambil potongan kakinya.

Ia menangis, berteriak.. Maaf maaf anakku.. Maaf maaf..

Aku menghadangnya. Aku tak sanggup melihatnya seperti ini. Aku memeluknya erat..

“Relakan ibu.. Anakmu masih bisa bertahan hidup..”

“Maafkan ibu, nak, ibu harus memilih ini.. Ibu sebenarnya tak ingin…APa yang harus ibu katakan padamu nanti nak…ibu gak ingin ini…benar gak ingin”

Dan hatiku tergerus akan memori 1976..

Tiba2 rasa rinduku datang menyerbu..

Saat kupeluk ibu itu,

bisa kurasakan detak jantungnya yang keras, dan tangisnya yang kencang.

Seakan ingin mengutuk dunia akan musibah ini…

****

Misi penyelamatan berangsung-angsur selesai.

Aku duduk2 santai di antara runtuhan tembok.

Aku memperhatikan dua orang bercengkrama, keduanya laki-laki, mungkin umurnya saama denganku.

Pria 1 : apa yang membuatmu ingin jadi relawan?

Pria 2 : aku ingin menyelamatkan mereka. Aku pernah merasakan ini, tahun 76.

Pria 1 : oh, saat itu aku masih 2 tahun. Lalu bagaimana keluargamu?

Pria 2 : ayahku dan kembaranku meninggal. Saat itu aku ingat sekali, aku dan kembaranku tertimpa tembok besar yang sama. Ketika itu ibu harus memilih menyelamatkan siapa. Dan ibu memilihku.

Pria 1 : keputusan yang sangat sulit

Pria 2 : iya. Sampai sekarang ibu masih saja menyesali hal itu. Sudah 32tahun namun luka itu tidak hilang. Ibuku tidak pernah mau saat kuajak tinggal di luar kota bersama istriku. Beliau masih ingin menemani ayah dan saudaraku di Tangshan. Beliau benar-benar merasa kehilangan, merasa bersalah.. Kata beliau memang rindu akan semakin mengejar ketika hal tersebut telah tiada…

Glek!

Apa dia saudaraku…?

Oh Tuhan..

*****

Bus melaju kencang.

Benar.

Benar.

Ia saudaraku yang dipilih oleh ibu untuk hidup.

Dan sekarang aku perjalanan menuju rumah ibu.

Ada rasa rindu padanya.

Aku deg degan.

Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan.

Sesampainya di rumah,

Aku takut mengetuk pintu.

Aku bisa melihat sosok beliau dari jendela dapur.

Beliau masih cantik, sangat cantik.

Aku tidak berani menemuinya.

Aku melangkah ke ruang tamu.

Aku melihat ada fotoku dan foto ayah terpajang, itu tempat berdoa.

Saudaraku segera mengambil fotoku, ia merasa fotoku takpantas dipajang. Lha iya, aku belum mati.

Aku melihat baskom.

Baskom berisi tomat.

Aku ingat sekali, pada sore dimana gempa 76 terjadi, aku marah pada ibu karena aku tak kebagian tomat. Tomatku dikasihkan pada saudaraku.

Dan ibu bilang ‘besok kubelikan lagi untukmu’

Aku jawab ‘bohong!’

Hatiku bergetar, ibu benar-benar menepati janjinya. Tidak hanya sebuah, di baskom ada 5 tomat. Belum selesai aku menikmati ruang tamu,

Aku berbalik..

Ibu datang menghampiriku.

Deg deg.

Ia tiba-tiba bertekuk lutut dan bersujud di depanku.

“Maafkan ibu nak, maaf. Ibu saat itu sangat bingung. I

bu tak mau kehilanganmu. Ibu.. Ibu.. Ibu…”

“Ibu benar-benar sakit.. ibu sangat sedih saat itu..

mana bisa ibu memutuskan salah satu untuk selamat. Lebuh baik ibu menggantikan posisi kalian ketimnbang harus memilih seperti itu”

 

Aku hanya bisa diam.

“Tak tahukah nak ibumu ini selalu meridukanmu..

Kemana saja kau selama ini?

Kau bahkan tak mencariku. sudah 32 tahun aku menderita

 Tiap hari aku selalu memikirkanmu dan merasa bersalah. Kemana saja kamu?”

“Ibu benar benar tak kuat saat itu.

Ayahmu tiada dan ibu dihadapkan pada keputusan yang sangat berat..

Dan ibu sangat merindukanmu….

Aku takkuat lagi untuk gengsi..

Langsung saja kupeluk ibu…

Tangis kami pecah bersama…

****

Namaku tertulis dengan cantik di nisan itu.

Saudaraku minta ijin padaku, apa mau makamku dibongkar.

Toh mayatku tidak ada di dalamnya.

Tidak. Biarkan saja, jawabku.

Aku ingin nanti makamku tetap disini, di sebelah ayah.

Namun aku ingin tahu isi makam itu.

Apa yang mereka kuburkan atas namaku.

Setalah tanah dibersihkan dari atas peti,

Kubuka peti itu…

Tumpukan uang,

Buku,

Buku SMP

Buku SMA

Buku kuliah

Tas sekolah

Apa ini maksudnya?

Langsung saja aku tanyakan pada saudara kembarku

Saudaraku menjelaskan..

“Ibu, dalam kemiskinan kami, ibu tetap berperilaku adil..

Ketika aku diberi uang saku, ia selalu menyimpannya buatmu, tiap akhir bulan, ia kumpulkan di makammu.

Ibu selalu membeli 2 set buku. Satu untukku dan satu untukmu.

Ibu membelikan tas sekolah, kamu cokelat aku biru..

Begitu juga tentang barang lain..

Ibu selalu mengganti tomat di baskom dekat foto di tempat doamu..

Ibu sangat menghargai keberadaanmu di hatinya..”

Aku lemas

Tertunduk lesu..

Anak macam apa aku ini.

Aku melupakan beliau di kala ibu benar2 menghargai keberadaanku, dan sangat merindukanku..

Aku berdiri dan langsung kupeluk ibu,

“Bu maafkan anakmu

Aku durhaka

Aku bahkan memendam benci selama 32 tahun

Dan selama itu ibu masih memupuk rasa cintamu

Maafkan aku bu

Aku tak pernah mengingatmu

Aku selalu menganggapmu tak menyayangiku..

 

Aku aku aku..

Aku tak pantas disini..

AKu bukan anak yang baik..

Aku takpernah menghormatimu

Maafkan aku ibu..

Aku..

Aku benar-benar tak pantas…”

Ibu mendekapku erat, menghapus air mataku.

Senyumnya tulus.

Dengan lirih ibu mengatakan

“Sudah lah nak, ibu baik-baik saja…

Ibu selalu mendoakanmu agar bahagia disana..

Dan sekarang ibu bisa bertemu lagi denganmu..

Apa lagi yang ingin kamu tangisi?

 Ayo kita pulang dan berbahagia..

Ibu merindukan cerita hidupmu selama 32 tahun ini..”

********

“Kubuka album biru

Penuh debu dan usang

Ku pandangi semua gambar diri

Kecil bersih belum ternoda

Pikirkupun melayang

Dahulu penuh kasih

Teringat semua cerita orang

Tentang riwayatku

Kata mereka diriku slalu dimanja

Kata mereka diriku slalu dtimang

Nada nada yang indah

Slalu terurai darinya

Tangisan nakal dari bibirku

Takkan jadi deritanya

Tangan halus dan suci

Tlah mengangkat diri ini

Jiwa raga dan seluruh hidup

Rela dia berikan

Oh bunda ada dan tiada dirimu

Kan slalu ada di dalam hatiku “

*********

Tulisan ini adalah penceritaan kembali film Aftershock.

Ditulis dengan sudut pandang anak kembar perempuan.

Hanya bisa sharing,

With love,

Oca🙂