Tags

, , , , ,

KRS (Kartu Rencana Studi) adalah selembar kertas berisi mata kuliah yang akan diambil di semester depan. Yuhuuu, ternyata banyak sekali cara ber-KRSan. Tiap perguruan tinggi punya cara masing-masing. Bahkan dalam lingkup PT yang sama, ada juga yang tiap fakultas, departemen/jurusan punya cara tersendiri. Berhubung saya punya kesempatan kuliah di dua tempat yang berlainan, saya ingin cerita sedikit mengenai perbedaan itu.

Contoh ini adalah cara KRSan yang berbeda di Statistika Institut Teknologi Sepuluh Nopember dan Sastra Inggris Univesitas Airlangga.. Yang perlu diketahui, ternyata dua kampus ini memiliki kebijakan yang berbeda. ITS sudah memakai sistem pusat, jadi di jurusan apapun, tetap memakai wifi intranet ITS. Berbeda dengan Unair, pengisian KRS (tampaknya) diserahkan ke fakultas, jadi tiap fakultas (bisa saja) memiliki cara berbeda.

a) ITS : sudah berbasis teknologi, sesuai namanya.

ITS, Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Seperti namanya, PT yang berada di kawasan Timur Laut Surabaya ini sudah menggunakan KRS Online. Di ITS, semua mahasiswa dapat mengakses halaman sim akademik selama mereka connect intranet ITS. Jadi jangan harap bisa KRSan kalau berada di luar jangkauan intranet ITS. Selain masalah connect atau nggak, KRSan juga baru dapat dilaksanakan apabila sudah membayar SPP dan Ikoma untuk semester baru. Jika belum, saat mencoba KRS-an ada tuisan yang kira-kira bunyinya seperti ini : Maaf administrasi anda belum selesai.

Setiap memulai tahun ajaran baru, user yang login di akademik pasti meningkat. Seperti biasa kira-kira ada waktu seminggu buat mahasiswa untuk mengisi KRS tersebut. Mengisi KRS meliputi memilih mata kuliah dan kelas (ada yang sudah di plot, jadi tidak memilih kelas). Di Statistika sendiri, tiap angkatan sudah dibagi menjadi 2 kelas, yaitu kelas A (NIM 001-05x) dan B (NIM 05x-11x). Jadi yaaa tidak ada kesempatan untuk pindah kelas. Melihat kebijakan jurusan yang selalu mengeplot kelas, kami tidak perlu takut kehabisan kelas, toh semua sudah punya jatah kelas sendiri-sendiri. Jika kelas mata kuliah pilihan bidang penuh, mahasiswa dapat mengajukan penambahan kuota di kelas tersebut.

Hari itu saya mengisi KRS sambil berleha-leha di area taman sigma. Setelah memilih mata kuliah selesai, saya menemui dosen wali. Pertemuan dengan dosen ali ini disebut perwalian. Selama perwalian saya dapat konsultasi, mana mata kuliah yag sebaiknya saya ambil, berapa sks, dll. Setelah konsultasi selesai, dosen wali akan meng-accept mata kuliah yang kita isi, dan selesai… tinggal catat jadwal dan ambil print out KRS di BAAK dengan menunjukkan KTM/slip pelunasan administrasi ..🙂

b) Fakultas Ilmu Budaya Unair : Mencoba KRS online

Sebelum memasuki tahap KRS, ternyata ada serangkaian kegiatan yang harus dilakukan.

1) Pelunasan Administrasi semester

Pembayaran SPP dan Ikoma. Pembayaran SPP dapat dilakukan di BNI cabang mana pun, tetapi Ikoma hanya bisa di BNI cabang Unair.

2) Pengambilan Kartu Ikoma

Setelah menyelesaikan administrasi, mahasiswa (saya) harus ke ruang ikoma (di FIB). Di ruang ikoma, saya menunjukkan KTM dan slip pembayaran. Dengan menunjukkan barang tersebut, saya diberi kartu hijau, yaitu kartu keterangan pelunasan administrasi.

3) Registrasi Mahasiswa

Setelah mengisis kartu warna telor asin itu dan mendapat tanda tangan dari penjaganya, saya harus bergegas ke loket akademik. Di loket ini, saya harus menunjukkan slip pembayaran dan KTM. Disini saya akan mendapatkan logo stiker Unair hologram yang ditempel di bagian belakan KTM saya. Mereka menyebut ini proses registrasi.

4) Ambil Berkas KRS manual

Setelah mendapatkan tanda registrasi, saya harus mengantri di meja pengambilan KHS dan KRS. Bukti yang ditunjukkan berupa KTM dan kartu hijau. Saya pun dapat menukarnya dengan satu bendel jadwal kuliah se-FIB (serta pilihan kelas), tiga lembar kertas KRS manual (warna kuning, hijau, putih) dan KHS.

5) KRS Online

Ternyata setelah mendapat KRS manual, saya belum bisa langsung seenaknya mengambil kelas ini itu. Disini perjuangan rebutan (yang di Statistika gak ada) akan saya rasakan.

Denger-denger baru tahun ini FIB mencoba KRS online. Eh eh tapi onlinenya bukan online seperti ITS yang menggunakan fasilitas intranet, melainkan FIB menyediakan 15-an komputer di Laboratorium. Komputer ini ditujukan untuk seluruh mahasiswa FIB (FIB punya 4 departemen). Wadddaw! Bakal antri panjang!

Design online nya masih standar, komputer juga tidak bekerja otomatis, kadang-kadang geje gituh. Yang repotnya lagi, jika kelas penuh, saya benar-benar tidak dapat mengusahakan untuk menambah kelas. Untung saja kelas yang sore mayoritas sedikit peminat, jadii yaaa gak masalah😀

Selesai entry kelas, print hasil entry-an dan menunjukkannya saat perwalian

6) Mengisis KRS manual, lalu perwalian

Setelah mengisi online, saya haru mengisis manual. Isian ini ada 3 macam, warna kuning untuk bagian akademik, warna hijau untuk dosen wali dan warna putih untuk arsip mahasiswa. Setelah mengisi ketiga macam kartu tersebut, saya menemui dosen wali untuk meminta tanda tangan

7) TERAKHIR : mendistribusikan KRS

Dapat tanda tangan, selesai?? BELUM. Saya masih harus mndistribusikan KRS. Maksudnya, saya harus memberikan KRS hijau ke dosen wali, lalu ke akademik untuk mengumpulkan kartu kuning, dan menyimpan kartu putih untuk saya sendiri. Dan selesaiiiiiiiii… KULIAH😀