Tags

, , , , , ,

*cerita ini lanjutan dari sayangkah kau pada ibumu?

Sebelumnya,, saya ingin sedikit membagi cerita susah-payahnya menemukan isi puisi kaos ibu ini..

Hunting kaos ibu –

Sasaran pertama mendapatkan kaos ini adalah lemari baju di kamar maz ido..

sedikit angel coz buanyaaaakkkkk buangeddddd kaosnya maz yang item –‘

Dan setelang membongkar (pasang) isi lemari, huff, USELESS, I didn’t get it –‘

Sudah kebayang devilnya mazido kalau tahu aku membobol lemari bajunya, tampaknya bakal mengerikan,.

Sudahlah..

Tanya Mama…

Dan mama hanya menggelengkan kepala, tanda tidak tahu..

Huff, okey okey.. aku bakal nyari lagi..

Setelah ku menggali informasi dari mama, ternyata ada seseorang yang bias kujadikan objek.. mama bilang maz Didit, alumni Teknik Kelautan ITS juga punya kaos seperti ituu, persis, dari pak Bambang juga katanya… (wkwkw, kayaknya gak Cuma aku yang dibilang gak sayang ibu ternyata :P)

Okay okay,, aku akan menemui maz yang rumahnay tepat di sebelahku, wkwkwkwkkw😄

Nah !

Akhirnya aku mendapat kaos itu, *meminjam sih, bukan mendapat😛

Saat minjem, aku sempatkan mengobrol yg intinya aku ingn tahu kenapa maznya dapet kaos sama kayak aku..

Apa jugak karena dibilang gak sayang ibu?

Hohoo, ternyata tidak – -“

Kaos itu sebagai kenang2an dari pak Bambang waktu hari ibu sebagai dedikasi maz didit yang sering ikut kegiatan masjid😀

Heuheuh,

Kenepa Cuma aku yg dapat dengan alasan memalukan – -“

Wwkwkwk,

Sudahlah, takpenting..

Yang penting aku bias postin n membagi puisi ini buat semua temanku :))

Silakan membaca, dan selamat menikmati :))

Rida Allah mengiringi Rida Ibu

Seseorang bertanya

“Ya Rasul Allah,

Siapakah yang paling berhak

mendapat perlakuan baik dariku?”

“Ibumu”, jawab beliau

“Kemudian siapa?”

“Ibumu”

“Lantas siapa?” tanyanya lagi

“Ibumu” jawab Muhammad Rasulullah

Orang itu masih bertanya, “Kemudian siapa?”

Nabi menjawab dengan penuh kesabaran,

“Bapakmu”

Ibu adalah tuah kita

Lebih sakti dari pada seribu kiai

Lebih normal disbanding ratusan paranormal

“Ibu iku kaya dene Pangeran katon,”

Ibu ibarat Tuhan menjelma dalam keseharian

Lantun sebuah tembang jawa

”Ching siao mu chin,” kata orang china

Taat dan berbaktilah kepada ibumu

Yang telah pertaruhkan nyawa

Ia tempat bermanja-manja

Tempat melabuhkan suka-derita

Adakah sesuatu untuk membalas budinya?

Bila hidup menderita

Boleh jadi perlakuanmu

Tiada santun

Memuliakan

Surgalah tempatmu

Karena

“Surga berada di bawah telapak kaki ibu”

Tuhanmu memerintahkan,

Janganlah menyembah

Selain Ia

Berbuatlah baik

Kepada ibu-bapakmu

Apabila seorang dari keduanya

Atau keduanya

Mencapai usia tua

Bersamamu

Janganlah katakan

Kepada mereka “Ckckc..”

Apalagi membentak

Sapalah dengan kata-kata

Penuh hormat

Rendahkanlah hati terhadap keduanya

Dengan penuh kasih sayang

Untuk ibu

Bukan tangis mengiringi kepergian

Tidak pula duka setelah tiada

Doa

Yang dapat kau panjatkan

Kehadirat Ilahi

(itu pun kalau kau anak yang saleh)

Ya Allah,

Ampunilah kedua orang tuaku

Ibu bapakku

Kasihannilah mereka

Sebagaimana mereka mengasihiku

Semasa kecil

*Awal September 2006

Bambang Sujiyono