Tags

, , , , , ,

Sebuah cerita sangat biasaa, dari pak dhe yg (amat) kukagumi, Prof.Dr.H.drh. Bambang Sumiarto, M.Su., M.Sc., dekan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH-UGM) saat halal bihalal trah Moecharom di Ambarawa, Senin, 21 September 2009..

Beliau pun baru mendapat cerita ini, beberapa waktu lalu..

Selamat membaca😉

 

Makna (Dibalik) Jatah Umur-mu, Manusia..

Suatu hari di tempat yang amat jauh, terjadi sebuah percakapan antara Tuhan dan makhluknya..

Terdapat seorang manusia, seekor kuda, singa, dan elang menemui Tuhan untuk menanyakan jatah umur yang akan mereka dapat…

Manusia : “Ya Tuhan, berapa lama Engkau memberiku jatah hidup di bumi?”

Tuhan : “Tiga puluh tahun, Manusia…”

Manusia : “Oh, tidakkah itu terlalu sedikit, Tuhan? Aku ingin lebih…”

Sesaat Tuhan belum menjawab, seekor kuda turut menanyakan hal yang sama..

Kuda : “Ya Tuhan, berapa lama Engkau memberiku jatah hidup di bumi?”

Tuhan : “Tiga puluh tahun, Kuda…”

Kuda : “Apa? Tiga puluh tahun? Oh tidak Tuhan, itu terlalu lama bagiku.. Saya lelah jika harus bekerja keras selama tiga puluh tahun… Beri saya lima belas tahun saja, cukup lima belas saja…”

(Manusia menyela..)

Manusia : “Tuhan, kuda merasa keberatan untuk mendapatkan tiga puluh tahun, Bagaimana jika sisa umurnya yang lima belas tahun itu Engkau berikan kepadaku?”

Tuhan : “Baiklah, kuda akan mendapat lima belas tahun saja. Lima belas tahun sisanya Ku-berikan pada manusia.. Sehingga jatah manusia untuk hidup adalah empat puluh lima tahun..”

Sesaat setelahnya, seekor singa menanyakan hal yang sama..

Singa : “Ya Tuhan, berapa lama Engkau memberiku jatah hidup di bumi?”

Tuhan : “Tiga puluh tahun, Singa…”

Singa : “Apa? Tiga puluh tahun? Oh tidak Tuhan, itu terlalu lama bagiku.. Saya lelah jika harus memimpin hutan dan berlaku adil selama tiga puluh tahun… Beri saya lima belas tahun saja, cukup lima belas saja…”

(Manusia menyela..(lagiii))

Manusia : “Tuhan, singa merasa keberatan untuk mendapatkan tiga puluh tahun, Bagaimana jika sisa umurnya yang lima belas tahun itu Engkau berikan kepadaku?”

Tuhan : “Baiklah, singa akan mendapat lima belas tahun saja. Lima belas tahun sisanya Ku-berikan pada manusia.. Sehingga jatah manusia untuk hidup adalah enam puluh tahun..”

Setelah itu, seekor elang menanyakan hal yang sama..

Elang: “Ya Tuhan, berapa lama Engkau memberiku jatah hidup di bumi?”

Tuhan : “Tiga puluh tahun, Elang…”

Elang : “Apa? Tiga puluh tahun? Oh tidak Tuhan, itu terlalu lama bagiku.. Saya lelah jika harus terbang mengawasi hutan dari atas selama tiga puluh tahun… Beri saya lima belas tahun saja, cukup lima belas saja…”

(Manusia menyela.. memang manusia tidak ada puasnya..)

Manusia : “Tuhan, elang merasa keberatan untuk mendapatkan tiga puluh tahun, Bagaimana jika sisa umurnya yang lima belas tahun itu Engkau berikan kepadaku?”

Tuhan : “Baiklah, elang akan mendapat lima belas tahun saja. Lima belas tahun sisanya Ku-berikan pada manusia.. Sehingga jatah manusia untuk hidup adalah tujuh puluh lima tahun..”

****

Makna apa yang dapat Anda ambil, kawan?

Sebenarnya kita (manusia) hidup di bumi ‘hanya’ tiga puluh tahun.. Selebihnya adalah sisa umur dari makhluk lain yang diberikan oleh-Nya..

Lima belas tahun pertama => dari seekor kuda yang selalu bekerja keras

Lima belas tahu kedua => dari seekor singa yang memimpin hutan dan berlaku adil

Lima belas tahu ketiga => dari seekor elang yang selalu mengawasi hutan

Lalu, apa ‘kewajiban’ manusia atas umurnya?

Umur nol hingga tiga puluh tahun adalah saat seorang manusia untuk belajar…

Umur tiga puluh hingga empat puluh lima adalah saat seorang manusia untuk bekerja keras..

Setelah itu?

Jadilah pemimpin yang adil pada umur empat puluh lima tahun sampai enam puluh..

Selalu mengawasi dari atas dan menyiapkan segala sesuatu untuk kehidupan berikutnya pada umur enam puluh tahun hingga tujuh puluh lima (hingga ajalmu..)

Pesan dari Pak dhe kala itu :

“Mumpung anak, keponakan, cucu dan semua yang disini (pada saat trah) masih muda, resapilah cerita sederhana di atas.. Belajarlah dengan keras, bekerja, menjadi pemimpin, dan apabila sudah senja, jadilah pengawas serta persiapkan dirimu untuk menghadap-Nya… Contoh mudahnya, Pak Dhe ini belajaarrr keras untuk kuliah, bekerja giat menjadi dosen dan sekarang umur 50 (sekian,kurang tau brapa pasnya, hhe :D) jadi pemmimpin fakultas, nanti umur 60an sudah tidak memimpin lagi, akan ada regenerasi, saya menjadi pengawas dan mempersiapkan diri…”